Blog Archives

Komentar Negatif

Ada seorang bapak-bapak yang kukenal yang tiap kali mendengar sebuah berita dan atau pernyataan, hampir bisa dipastikan dia akan memberikan komentar negatif atau minimal memberi komentar dengan nada merendahkan. Hal ini tidak terjadi sekali atau dua kali saja, namun berkali-kali.

Aku yang sering menjadi salah satu korban komentar negatifnya—sialnya aku cukup dekat dengan bapak ini—kadang hanya bisa mengelus dada hingga akhirnya sering komentarnya hanya kuanggap angin lalu. Sebenarnya bisa saja kubalas komentarnya dengan komentar senada, namun bila aku melakukan hal ini, pertanyaan (elementer) yang timbul adalah, apa bedanya aku dengan bapak ini ? Dan aku tidak ingin sama-sama menjadi orang yang suka memberikan komentar negatif karena melanggar prinsip-prinsip meghormatiku (my principles of respect).

Secara umum aku belum menemukan sikap yang tepat terhadapnya. Di satu sisi, aku tahu bahwa diam saja tidak sehat namun di satu sisi mengatakan yang terjadi secara terus terang perlu usaha dan keberanian ekstra untuk menembus temok ke-pakewuh-an.  Sialnya, masyarakat di daerahkyu memilki kultur ke-pakewuh-an yang cukup kuat dan andap asor terhadap orang tua yang, menurutku, berlebihan. Jika aku berterus terang pada bapak tersebut, maka aku harus siap dengan konsekuensi dicap (di-judge) sebagai anak yang blak-blakan, ngomong tanpo tiding aling-aling, dan ra ngajeni wong tuo.

Ya susah juga kalau mo melawan arus yang berhubungan erat dengan budaya. Sampai tulisan ini dibuat, aku masih mencari cara yang tepat untuk ‘meluruskan’ bapak tersebut, untuk ‘mengubah kemunkarannya’. Kusebut kemunkaran karena menurut standar hormatku (my respect standards) melukai perasaan orang lain adalah sebuah bentuk kezaliman.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 607 other followers