A Shameful Subject to Discuss

October 28, 2009

korupsi

He gazed at the world outside in the porch. Sitting comfortably in his chair, he enjoyed some fried food served on a plate on the table near him. He was silent. He seemed to be occupied by his own thought.

At first, I was hesitated about whether or not I should sit with him. Sitting with him always excited me as he often discussed an interesting subject and came up with fresh ideas that attracted my mind and stimulated my motivation. To me, he seemed to have gone through a long chain of experiences that taught him the wisdom of life.

I remembered having a discussion with him on the learning atmosphere in schools once upon an evening in our porch. He stated that there ought to be a progressive change in the way teachers teach students. He argued that the conventional teacher-centered learning style, which was still widely used in schools, would only result in passive students lacking confidence and courage to think critically about new things. He pointed out some instances taking place within people in his generation. “I know you desire not to be a teacher, Son,” he said,”But when you happen to teach a group of kids, let them talk. Encourage them to be critical of what you have taught them.” Stricken with such an opinion, I could only nod as my mind processed the information so intensely that I couldn’t say any word.

I hoped that such an appealing discussion would happen again between me and him. After deliberating for a while, I slowly walked and sat in an empty chair next to him.

“Busy, Dad?” I asked him.

He gasped a long breath, stretched out a bit.

“Not really. How are you doing?”

“Not bad.”

“What have you been busy with lately?”

“Nothing.”

“No protesting against the government again?” he asked with a provoking smile in his aging face.

“Hehe…well, a group of friends and I just held a protest prior to my coming home.” I took his question a little bit seriously, realizing that I was about to find a chance to have a discussion with him.

“What was the issue?”

“Corruption. The local mayor was suspected of committing corruption worth billions of rupiahs. It was our third time to speak out the issue.” I answered enthusiastically, hoping the discussion would be lively. But to my surprise, there was silence. An awkward one. I waited for him to make a comment or at least give a response, but he didn’t seem to do so. He took a piece of fried banana instead. I had to say something, I thought.

“So Dad, what do you think about it?”

“About what?”

“Our protest, or corruption itself.”

He kept chewing the banana.

It was not our first time to discuss corruption, nor the first time did he seem not to be interested. I remembered one day I expressed my opinions eagerly about the contagious crime affecting most bureaucrats in this country. I told him its history since the VOC era until the recent years along with the effects of such a shameful act. Uncountable number of examples I gave him to support my ideas, ranging from Edy Tansil’s case to the case of the local head of the village that was suspected of cutting direct cash aid (BLT). But he seemed not to be interested.

Sometimes I even went further. I compared this country to one of our neighbouring countries that now spangled with modernity and prosperity. Since this republic was founded forty four years ago, corruption had become a deadly disease crumbling our potentials into pieces.

“Were our ascendants true men, honest to themselves and the country, this country would have become a prosperous one, a world superpower perhaps. Can you imagine that, Dad? ” I argued exuberantly. “What’s the difference between corruptors and thieves anyway? Corruption is such a disgraceful crime. A ruthless one. Some corruptors deserve death penalty, I believe.” But he remained silent. All my arguments and enthusiasm seemed in vain.

I had no idea why he responded so differently to that subject. Sometimes I assumed that subject about corruption never really attracted him or perhaps he didn’t know much about it.

In contrary, he would excitedly respond to other subjects such as education, terrorism, economy, politics, et cetera. He would eagerly listen to me and responded with questions that stimulated my mind to think more critically. But such responses never happened during any single discussion about this particular subject, like what was happening at the moment.

“Dad?” I shattered the silence.

“Young man, how is your GPA? Doesn’t drop, eh? You know, everything should be balanced; academic achievement, organizations, and part time jobs.”

“Dad, I thought we are discussing….”

“What was your last GPA? 3, 92? That’s not bad. I’m sure if you study harder you’ll get 4, 0.” He smiled brightly at me. “I’m so proud of you.”

All of sudden, his cell phone rang; he pulled it out of his pocket. I sighed and took a piece of fried banana. Changing the subject with flattery won’ work, I’ll keep discussing this subject, I murmured.

“Hello.”

“Hello. Sir, I have a bad news.” Said a voice from his cell phone speaker softly.

“What do you mean?”

“The state prosecutors are preparing to investigate our last…you know…”

“Which one?”

“The inter-regency road construction, the budget of which we overestimated.”

“How far have they gone?”

“I heard they’re gonna call some of us for hearing tomorrow.”

He stunned for a while.

“Sir?” asked the voice in the phone.

“I’ll talk to you later.”

He hanged up the phone, looked at me nervously, and then went into the house.

I gazed at him, hardly believed what I just heard.


A Shameful Subject to Discuss

October 28, 2009

Ikmas Semarang OASSE Assalaam

 

Sixty four years we’ve gone down this road

But you’re still so ignorant about them

How many times have I told you

How many times have I showed you

Those filthy rats must be slain

Burglars, tormentors, manipulators

They’ve taken our Mother’s belonging so greedily

thus made her limp

made our children cry

made our light dim

made her run more slowly than our neighbours

does

Sixty four years we’ve gone down this road

But you’re still so reluctant to talk about them

I’m afraid you are one of them


Pada Sebuah Lembaran Abu-Abu Kehidupan

August 28, 2008

Hari-hariku akhir-akhir ini terasa aneh.
Sebenarnya yang aneh adalah kehidupan sosialku
hubungan horizontal atau hablum minannaas atau apa lah varian namanya.
Ada yang terus menjauh,
ada yang ingin tetap dekat,
ada yang seakan tak peduli,
ada yang begitu perhatian,
ada yang membingungkan,
dengan sikap-sikap yang tak dapat kupahami
Ada juga yang membingungkan
dengan sikap-sikap yang tak kuduga dan bayangkan sebelumnya.
Sedangkan hubunganku dengan Yang Di Atas,
hubungan vertikal atau hablum minallah atau apa lah varian namanya,
semakin tak menentu,
cintaku pada-Nya seakan surut, tak seperti dulu lagi.
Pada-Nya, aku tak sesetia dulu.
Harus kuakui aku bukan hamba yang baik.
Bahkan ada saat-saat dimana aku mempertanyakan eksistensi-Nya.
Astagfirulllah..
Sering kucoba bangkitkan cinta yang
dulu pernah memenuhi ruang hati
namun sia-sia saja.
Tuhan, bantu aku membangkitkan cintaku pada-Mu.


Aku Telah Melihat Malaikat

May 27, 2008

Cerpen Pratama Yoga Nugroho

Malam minggu ini adalah malam keduapuluh lima bagiku. Kali ini bertabur bintang. Mungkin di salah satu bintang itu ada malaikat bersembunyi. Aku masih setia menunggu kemunculannya di teras rumah, meski sudah lima kali ibu menegurku. Dan sekarang sudah jam setengah sebelas. Aku belum mengantuk. Aku masih setia menunggu malaikat.

Sehari sebelum keberangkatannya ke Jakarta, bapak bilang, “Ayam berkokok itu tandanya melihat malaikat. Lha kalau anjing menggonggong dan kuda meringkik itu tandanya melihat setan. Anak kecil seperti kamu, Le, mungkin bisa melihat mereka.” Kata-kata itu kumasukkan dalam kepalaku dan kusimpan sampai sekarang. Aku yakin bisa melihat mereka.

“Malaikat dan setan tidak kelihatan,” kata ibuku suatu kali.

“Lantas siapa gendruwo dan pocongan yang kakek lihat kemarin?”

“Mungkin gendruwo dan pocongan sungguhan.”

“Bukan. Itu setan.”

“Ah, emboh lah.”

Aku sering mendengar pengalaman-pengalaman mistis kakek. Ibuku sering melarangku mendengarkan cerita beliau. Tidak bagus untuk perkembangan mentalmu, katanya, tetapi aku tetap saja asyik menikmatinya.

Memang setan sudah sering dilihat orang, tetapi malaikat tidak. Belum terdengar cerita ada orang melihat malaikat selain para nabi dan rasul atau mungkin aku belum mendengarnya. Jadi suatu saat nanti jika aku melihat malaikat, bisa jadi aku satu-satunya orang yang bisa melihatnya sejak malaikat Izrail turun untuk memutus tali kehidupan Nabi Muhammad.

Aku masih menunggu malaikat sekarang. Siapapun malaikat yang kulihat nanti, tentu akan membuatku girang. Entah Jibril, Mikail, atau bahkan Izrail. O ya, mengapa tidak kulihat Izrail saat nenek meninggal seminggu yang lalu ? Ah, mungkin dia enggan memperlihatkan dirinya.

Aku terus menunggu sampai kantuk menggiringku ke kamar dan membelaiku seperti belaian lembut ibuku.

* * *

Aku tiba-tiba terbangun. Perutku serasa ditusuk-tusuk. Mungkin akibat kebanyakan makan sambal tadi setelah Maghrib. Aku harus segera ke WC di kebun belakang rumah. Tetapi aku tak punya cukup keberanian untuk itu. Akhirnya kuputuskan untuk membangunkan ibuku. Kugoyang-goyang tubuhnya.

“Bu, Bu, antarkan aku berak, Bu!”

Ibuku menggeliat, tetapi tidak bangun, hanya ganti posisi.

“Bu, perutku sakit sekali, Bu!”

Ibuku tidak juga bangun sementara tusukkan di perutku semakin menjadi-jadi.

Tak ada waktu lagi.

Tai-ku harus kuusir secepatnya.

Aku meluncur ke WC. Suara gaduh yang kubuat akibat pintu yang kubanting dan kucing yang tak sengaja kutendang mungkin terdengar sampai rumah tetangga. Terserah. Yang penting aku harus berak. Pokoknya berak.

Aku terus meluncur ke WC di belakang rumah lima belas meter jauhnya. Di sanalah WC kesayanganku berdiri di bawah sinar bulan yang keperakan. Semakin dekat…dekat…

Ngieek…brakkk…

Crottt…crottt…crottt…

Ah, lega.

Kuusir semua tinja di perutku dan kunikmati proses eksodus mereka sambil meringis-ringis. Aku lupa rasa kantukku. Tinjaku terus keluar dan rasa takutku belum datang.

Setelah ritual cebok selesai, ada ketakutan bertiup di hatiku. Aku mulai teringat setan-setan yang diceritakan kakek dan bayangan mereka berkelebat-kelebat di kepalaku. Dalam bayanganku ada kuntilanak menantiku di depan pintu WC, ada pocongan berdiri di depan pintu rumah, ada gendruwo duduk di mulut sumur, ada tuyul mengendap-ngendap di tembok.

Jantungku berdegup kencang sekali dan terus kupegangi agar tidak copot. Aku diliputi ketakutan yang luar biasa. Belum pernah kurasakan rasa takut seperti ini. Dalam keremangan lampu lima belas watt kupakai celanaku.

Aku tak tahu harus berbuat apa; menunggu di WC sampai terdengar adzan subuh atau mungkin sampai ibu datang untuk buang air juga, atau keluar dengan menghadapi segala resiko yang mungkin terjadi. Aku terus berpikir keras. Harus ada pilihan yang kuambil. Keluar, tidak, keluar, tidak, keluar! Aku harus keluar. Aku tak akan peduli dengan setan-setan yang tiba-tiba muncul atau mungkin sudah menungguku di luar WC. Toh mereka tak mungkin membunuh lantas memakanku. Mereka hanya iseng, ingin dilihat. Ah, mengapa tidak muncul di siang hari saja.

Aku mengambil ancang-ancang. Kubuka pintu WC lalu aku meluncur ke pintu rumah. Cepat sekali. Tidak ada hantu, tidak ada setan. Pintu rumah yang terbuka lebar semakin dekat, dekat, ngieeeek…. brakkk…gedebuk…!

Aneh.

Benar-benar aneh.

Pintu rumah tiba-tiba tertutup dan aku menabraknya sangat keras. Aku terjatuh. Aku berusaha bangkit sambil memegangi dahiku yang sakit bukan main. Aku terduduk bersandar pintu, menghadap WC. Aku masih terengah-engah.

Angin malam berhembus meniupkan hawa dingin yang memaksaku menggigil sebentar dan menimbulkan suara pohon bambu yang bergesekan serta menerbangkan daun-daun kering di tanah. Lalu terdengar lolongan anjing. Anjing melolong pertanda mereka melihat setan. Ada anjing melihat setan. Ada setan terlihat anjing. Mungkin setan itu sekarang menuju ke arahku, memberi pelajaran mengapa hanya malaikat yang kunantikan dan menyatakan bahwa dia pantas untuk juga dinantikan bersama dengan bala tentaranya lengkap dengan persenjataan mereka.

Aku terduduk kaku. Aku semakin takut. Aku menunggu ibu. Aku mengharap ibu datang lalu akan kutanyai, “Kemana, Bu?” dan ibu menjawab, “Ke WC.” Tapi ibu tak kunjung datang.

Kukuruyuk… kukuruyuk….

Rasa takutku tiba-tiba hilang. Aku tiba-tiba juga tesenyum kecil. Ada ayam melihat malaikat. Ada malaikat terlihat ayam. Akan datang malaikat. Aku berdiri, akan kusambut malaikat.

Di kaki langit, di samping gunung, kulihat muncul sesosok cahaya luar biasa besar berpendar indah. Lalu ada ratusan sayap bukan main besarnya terkepak, membentang dari ujung barat sampai ujung timur. Aku takjub. Aku tak mampu berkata sapatah pun, mulutku terkunci. Belum pernah kulihat pemandangan seindah dan sehebat ini. Sungguh menakjubkan. Serasa bukan kenyataan.

Perlahan-lahan pintu rumah terbuka dan perlahan-lahan pula aku masuk lalu menutup pintu. Seperti ada yang menggerakkanku. Kemudian aku berjalan ke kamar. Aku masih takjub dan mulutku masih tekunci.

Aku telah melihat malaikat!!!


Mengapa Harus Tabu Wanita Menyatakan Cinta Pada Pria

May 16, 2008

Dinda,
andai saja kau terus terang tentang perasaanmu padaku
andai saja kau jujur tentang siapa yang ada di hatimu
andai kau tak terus-terusan menungguku,

mungkin airmatamu takkan pernah mengalir
mungkin perasaanmu takkan pernah sakit
mungkin hatimu takkan pernah mati

mungkin kau takkan pernah
terombang-ambing dalam ketidakpastian yang
katamu begitu perih dan menyiksa

Ah, mengapa harus aku yang menyatakan cinta padamu
Mengapa harus tabu wanita menyatakan cinta pada pria
dan yang paling penting
mengapa harus kauikuti aturan seperti itu?


Permintaanku Terhadap Permintaanmu Padaku

May 16, 2008

Kau memintaku menjadi pelindungmu
penjagamu
penguatmu
penopangmu
penghiburmu
penenangmu
pemimpinmu
pembimbingmu
Aku hanya minta satu darimu
terimalah aku apa adanya.


Sebuah Ode Untuk Kupu-Kupu

May 16, 2008

Perasaan yang kauluncurkan dari senyummu itu menghunjami hatiku, hingga akhirnya benteng-benteng pertahananku benar-benar rubuh. Harus kuakui bahwa aku tak berdaya melawanmu. Entah karena kesempurnaanmu yang begitu kemilau di mataku atau karena kelemahanku yang tak kuasa menghadapi kesempurnaanmu.
Aku sering berpikir mengapa kau memilih meluncurkan perasaan itu padaku, tidak kepada yang lain. Berkali-kali kutanyakan rasa penasaranku padamu, bukan karena aku tidak mempercayaimu melainkan karena aku tidak mempercayai pendengaranku, dan berkali-kali pula kaujawab, ”Karena aku mencintaimu dengan segenap keutuhanmu.” Jawabanmu bukannya meredakan rasa penasaranku namun justru meluap-luapkannya. Keutuhanku yang bagaimana yang membuatmu mencintaiku?
Ah, andai saja dapat kubaca pikiranmu. Dirimu yang sering tak terduga benar-benar menyurutkan niatku tiap kali aku berusaha menelusuri pikiranmu. Pernah suatu saat aku meragukan perasaanmu. Aku khawatir itu hanya satu dari sekian banyak langkahmu yang salah kutebak dan tafsirkan, namun ketulusan dan pengorbananmu membuyarkan segalanya, menepis setiap keraguan dan kekhawatiran yang terkadang tetap saja muncul.
Perasaanmu yang dulu tidak dapat kupahami dan ketika hadir di hatiku kuanggap sesuatu yang asing, perlahan menjelma menjadi sesuatu yang berharga, yang sanggup menebar kedamaian dan kebahagiaan, yang ingin kujaga dan pertahankan selamanya. Harus kuakui, perasaanmu kini bertahta dalam istana emas di hatiku.
Kupu-kupu, terima kasih atas perasaanmu.
Terima kasih atas senyumanmu.


Takkan Semudah Itu Kau Bisa Membodohiku

May 16, 2008

Orang itu tersenyum saat aku memilih diam
setelah lama kudengarkan celotehnya
Mungkin dikiranya aku termakan kata-katanya

Ah, dia tampak begitu puas bisa memakanku
Haha, sebenarnya dia yang termakan acting-ku
Padanya, sebenarnya ingin kukatakan,
Tak semudah itu kau bisa membodohiku
Sekarang lihatlah
betapa mudahnya aku membodohimu.


Mengapa Harus Kau Beri Dia Kepastian

May 16, 2008

Di sebuah taman, Parno dan Sumiyem bergandengan tangan di atas sebuah bangku. Semilir angin sore perlahan menelusupkan sebuah rasa ke hati mereka, rasa yang sama yang mereka rasakan tiap kali duduk berdua.

Sumiyem  : “ Parno, kali ini aku ingin kau jujur tentang perasaanmu padaku.”
Parno       : “Apa sikapku selama ini kurang jujur?”
Sumiyem  : “Maksudmu?”
Parno       : “Apakah semuanya harus dikatakan?”
Tidakkah kau bisa merasakan perasaanku dari sikapku?”
Sumiyem  : “ Aku bisa, Parno, hanya saja…”
Parno        : “Hanya saja apa?”
Sumiyem   : “Hanya saja aku tidak ingin salah menafsirkannya.”
Parno        : “Begitu juga denganku.”
Sumiyem   : “Maksudmu?”
Parno        : “Aku selalu berusaha merasakan perasaanmu padaku dari
sikapmu, hanya saja aku tidak ingin salah menafsirkannya.”
Sumiyem   : “Parno, kau pengecut!”
Parno         : “Bukan, aku sekedar ingin menjaga harga diriku.”
Sumiyem   : “Asal kau tahu, Parno, keangkuhanmu selama ini perlahan
membunuhku.”
Parno        : ”Benarkah?”
Sumiyem   : ” Ya, dan keragu-raguanmu benar-benar menyiksaku,
mencampakkanku dalam ketidakpastian.”
Parno terdiam. Hening.
Sumiyem   : “Parno, tahukah kamu mengapa kubiarkan tanganmu memegang
tanganku?”
Parno menggeleng.
Sumiyem   : “Jangan pura-pura bodoh! Aku benci semua keangkuhanmu,
keragu-raguanmu, kepura-puraanmu.”
Parno        : (mengambil nafas dalam-dalam)
“Baiklah, Sumiyem. Aku, aku tidak tahu harus memulainya dari
mana, namun sejujurnya aku hanya ingin kau tahu, bahwa
aku… sebenarnya aku …aku…”
(tergagap).
Sumiyem   : (menatap Parno lekat-lekat)
“Ya…?”
Parno        : “Ah, lupakan saja.”
Sumiyem  : “Tidak, tidak bisa begitu. Katakan saja. Kau membuatku
penasaran.”
Parno        : “Lupakan saja, Sumiyem.”
Sumiyem  : “Parno, kau benar-benar pengecut!”
Sumiyem lalu berdiri dan meninggalkan Parno.
Parno        : “Sumiyem, tunggu, jangan pergi!”
Sumiyem terus melangkah, tak menghiraukan Parno.
Parno       : “Jangan tinggalkan aku!”
Sumiyem  : (Sambil terus melangkah)
“Kenapa?”
Parno      : “Karena aku mencintaimu.”
Sumiyem : (tiba-tiba membalikkan badan)
“Apa?”
Parno      : “Aku mencintaimu, Sumiyem.”
Sumiyem : (tersenyum, mendekat ke Parno)
“Parno, selamat datang di hatiku.”
Lalu keduanya berpelukan, saling merasakan detak jantung yang kian mengencang dan dua hati yang perlahan menyatu.


Saat Aku Merasa Harus Terlibat dalam Sebuah Kemelut

May 16, 2008

Cepat atau lambat, waktu itu akan datang
saat fanatisme bertubrukan dengan pemahaman yang mendalam
saat pengultusan berbenturan dengan objektivitas
saat arogansi bergesekan dengan kedewasaan berpikir
saat ketamakan bersinggungan dengan kebersahajaan

Akan kuterjunkan diriku dalam kobarannya
akan kuhanyutkan pikiranku dalam arusnya

Namun aku akan terus berusaha menjadi aku
dengan segenap keutuhanku.