Category Archives: Journal

Special Words on a Special Day: February 27, 2011

Ulang tahun selalu menjadi momen spesial bagi setiap orang. Spesial karena di hari itulah usianya bertambah dan berarti berkurang pula jatah hidupnya di dunia; spesial juga karena di hari itu ada banyak doa terpanjat untuknya. Hari sabtu tanggal 27 Februari 2011 saya merasa bersyukur ada banyak doa terpanjat untuk saya.

Di hari usia genap 23 tahun tersebut, ucapan dan doa dari teman, dosen, keluarga, dan kenalan berhamburan datang baik di handphone maupun di akun saya di Facebook dan Twitter. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

Religious:
“Barakallah fiik.”
“Smoga tambah taat sama Allah, Rasul-Nya dan ortu.”
“Smoga smakin sukses untuk dunia maupun akhirat.”
“Wasalamun alaika fi yauma wulida wa yauma yamutu wa yauma tub’atsu hayya.”
“Ssalloha yarhamuk daiman.”
“Mabruk miladika ya shodiqi, la’allallahu ja’alaka mina-l-’aidin wa-l-faidzin.”

Inspiring:
“Keep your dreams alive and I believe you’re gonna make it one by one, leader!”
“Semoga dengan berkurangnya umur jd lebih bisa memaknai hidup.”
“Selamat Ulang tahun Mas Yoga..Smoga selalu Bijak :D
“May this be an even greater year for you.”
“Waaa yoga ulangtahuuunn ?? happy birthday ya gaaa !!! you’re the next leader… amiiiinnn !!!!! :D
Edsa Universitas Diponegoro:”Happy birthday my ex-reviver. Allah blesses.”
“Hepi blessday mas yogaaaaaa… Kabar2 ya kalo udah jadi kajur, dekan, rektor, bupati, mentri. :D
“Smg makin bersinar dan menyinari!”
“The bright future is on your hand. Happy birthdaaay! *Still. Looking forward to step in my feet in Paris with you guys! * Add that to your birthday wishes!”
“Wish the best for u and longer list country visited”
“Semoga diusia yg bertambah semakin barokah & mjd pribadi Muslim yg tangguh kebanggaan Alumni Assalaam.”
“Keep dreaming and fighting to realize your dreams. Never give up to the system for changing the world!”

Humorous:
“Semoga kadonya datang langsung dari Allah.”
“HBD njih mas spesialis pertukaran pelajar ke luar negri :D
“waduh, ada Makhluk PedhopiL, xixixixixixixi,….Slamat Tambah TUA Bro”
“Meskipun kita pernah hidup sekota,tp nasib kita berbeda,ideologi kita berbeda,warna kulit kita berbeda,rating ketampanan pun saya jauh melebihi anda ,,namun disamping hal2 yg berbeda diatas,kelamin kita sama meskipun saya tak mau meyakinkan hal tersebut dengan menunjukkan yg saya sembunyikan..dan tahun ini kita sama2 mengakui secara tidak langsung kalau kita memang bertambah tua meskipun penampilan ada lebih kentara dari saya…sugeng ambal warsa mas Yoga.”
“Happy bday Mas Yog.. Wish u all the bezt.. Haha ditunggu info nama2 pemain JAV2 yg laen haha..just kid.”
“Happy b’day mas @yogaslavianarmy semoga tuhan tidak menjauhkan kita.”

Unique:
“Otanjobi omedetou.”
“Joyeux anniversaire.”
“Milaadun sa’iid.”
“Selamat hari ibu, Yog.”
“Mas Yoga sugeng ambal warsa ya,mugi tansah kinasih ing gusti.”
“Sugeng tanggap warsa mas…”
“Selamat hari lahir…dalam penanggalan masehi”
“Sugeng tanggap warso Mas Yoga. Mugi tansah pinaring keberkahan.”
“Selamat ulang tahun kami ucapkan. Mugo2 opo seng dadi panjalokmu di-ijabahi Gusti Allah.”
“Dirgahayu Yoga..”
“Saengil cukhaeyo “

Standar (No offense ya :D ):
Hepy bday, Mas.
WUATB

Dalam ucapan dan doa yang beragam tersebut, saya sangat menghargai ikatan yang ada antara saya dengan mereka. Rasa syukur saya panjatkan pada Tuhan atas nikmatNyta yang hadir dalam bentuk hati-hati saudara, sahabat, teman, dan orang-orang dekat yang terbuat dari emas, yang mendoakan segala yang terbaik untuk saya di salah satu hari paling berbahagia dalam hidup saya di tahun 2011.
Terima kasih semuanya. Semoga Allah mengabulkan semua doa kalian untuk saya dan untuk kalian, serta membalasnya dengan balasan yang lebih baik. :)

Perfection is the Key

I learn that life is not only about achievement or self-gratification,
it’s about living your life to the limits of your potential,
about sprinting to the highest speed,
and flying to the highest height.
don’t let fear&hesitation make your decision.

And in order to attain a bright future,
I have to push myself to the absolute fullest,
suppressing all lazy voice taking easy way within.

And in order to attain that “kind of beauty”,
I have to perfect myself in character, intellectuality,&intelligence,
as well as to immerse myself in the ocean of love and devotion to God.

Bismillah.

Untuk Lilin Kecil yang Hari Ini Hatinya Penuh Bunga

Saya mengenalnya laksana sebuah lilin. Dia sering terbang kesana kemari dengan tenaga yang seolah tak berbatas, sebagai pelita yang membawa cahaya dan kehangatan kepada orang-orang yang ada sekitarnya. Maka berbahagialah orang-orang yang dapat mengenalnya, terlebih orang-orang menjadi bagian dari hidupnya.

Saya selalu mengaguminya dengan kerendahan hati dan kepapaan, dalam jarak yang Tuhan bentangkan antara saya dengannya, yang membuat saya begitu sulit menjangkaunya. Maka saya pun hanya bisa mengaguminya dari kejauhan, dalam ketakjuban melihatnya terbang setinggi awan di langit atau meliuk dalam tarian yang menghembuskan desir di hati. Rasa takjub yang terus saya panjatkan padaNya karena menciptakan makhluk seindah dia pun saya iringi dengan rasa syukur tak terhingga atas kesempatan yang Dia berikan untuk mengetahui siapa dia dan paling tidak bertemu dengannya.

Meski saya jarang bertemu dengannya, kekaguman saya terus abadi dalam jarak yang jauh membentang. Saya pun bertanya-tanya pada Tuhan ketika suatu saat Dia mendekatkan saya dengannya. Cerita macam apa yang Dia siapkan untuk saya, dan dia? Namun saya berpikir, apapun yang Dia siapkan untuk saya, harus saya jalani dengan keyakinan bahwa Dia Yang Memiliki jiwa saya dan jiwanya selalu menyayangi hamba-hambaNya dengan cara-cara yang hanya bisa dipahami dengan rasa cinta yang tak pernah surut padaNya.

Saya nikmati aliran yang menghanyutkan hati ketika Dia menakdirkan saya untuk dapat melihat dan berbicara dengannya dalam jarak yang tidak pernah bayangkan sebelumnya. Dalam hujan yang membasahi bumi pada suatu sore, dia tidak tahu bahwa hati saya juga basah oleh rasa syukur dapat menikmati waktu berdua dengannya. Ketika dingin tiba-tiba mengganggunya dan mengusik kebersamaan kami, ingin sebenarnya saya usir pengganggu itu dengan dekapan yang menghangatkan, agar ia bisa terus menyala terang menyinari hati kami.

Hujan pun membawa kenangan dan harapan. Dia tidak tahu, bahwa setiap kali saya menatap hujan, ingatan tentang sore itu datang kembali, dan saya selalu berharap dia ada di samping saya, sehingga kami bisa berbicara tentang banyak hal, tentang kehidupan, menikmati kehangatan yang perlahan menelusup ke dalam dada.

Namun seberapa tulus dan kuat saya berharap, saya sepenuhnya sadar, bahwa bagaimanapun juga, hati, pikiran, jiwa dan raganya adalah milikNya. Saya hanya bisa memohon padaNya, untuk dapat terus dekat dengannya, agar saya dapat terus menerima ilmu dan kebijaksanaan yang Dia kirimkan pada semesta alam lewat cahayanya. Bila Dia putuskan untuk mempercayakannya pada saya, maka akan saya jaga dan muliakan dia dengan sepenuh hati, dan dengan segenap kemampuan akan saya jaga nyalanya dan saya usahakan untuk membuatnya bersinar lebih terang.
Namun jika tidak, akan saya jaga rasa hormat dan kagum saya kepadanya, dan tetap saya doakan agar ia terus menyala menerangi siapapun yang ada di dekat dan sekitarnya.

Hari ini, dia berulang tahun dan saya tidak bisa menemuinya, namun Tuhan tahu apa yang saya rasakan. Dan doa yang saya panjatkan di hari ini, biar itu menjadi rahasia saya denganNya.

Selamat ulang tahun, lilin kecil Tuhan.
I’m blessed to know you and wish you shine more brightly. :)

Sertab Erener’s Istanbul: An Exotic Turkish Beauty that Captivates the Hearts

Here it is, another Turkish song that captivated my heart. I found the song by chance when I browsed on Youtube searching for videos about Galatasaray, then I clicked this song. It was also the fact that it is sung by Sertab Erener that motivated me to click it. I’ve been quite familiar with the Turkish diva since Korhan, a Turksih friend of mine whom I met when I was in an exchange student program in the States, gave me her CD, in which I found “Everyway that I Can”, a song with which Sertab Erener competed for Eurovision Contest 2003.

I found “Istanbul” really interesting. It has somewhat energetic tones and its videos shows exotic views of daily life in Turkey. I kept playing the song on and on, and I have to admit that it has been my favorite. It stands among other Turkish songs I love to listen, besides Galatasaray marching songs and other Sertab Erener’s songs.

To download Istanbul MP3, click here.

Video:

Lyrics (taken from http://lyricstranslate.com):

Turkish

Istanbul

Kimisi sadece işinde gücünde
Kimisi sadece heyecan peşinde
Kimisine sorulmaz bile derdi ne
Kiminle
(İstanbul)

Kimisi paça sıvar dereyi görmeden
Kimisi bütün yutar lokmayı bölmeden
Kimisi düşmez yakadan başa çorap örmeden
İnceden
(İstanbul)

Gelip bu şehri bozan
Bu şehre gelip bozulanlar
Hepsi aynı kazanda kaynıyor istanbulda
(Doğru söylüyor)

Dinle beni biraz şşt
Sen sen İstanbul sever seni sen beni seversen
Dinle beni biraz şşt
Sen sen İstanbul döver seni sen beni üzersen

Ne çok canlar yakar (İstanbul)
Bolca günahlara sokar (İstanbul)
Hızlı koşanları çabucak yorar İstanbul İstanbul
Ama sen istesen de bu şehirden kaçamayacaksın
Çünkü aklın bende bende İstanbuldayım
(Doğru söylüyor)

Dinle beni biraz şşt
Sen sen İstanbul sever seni sen beni seversen
Dinle beni biraz şşt
Sen sen İstanbul döver seni sen beni üzersen

Sen gidersin
İstanbul beklemez
Gelirsin gidersin
İstanbul farketmez
Acı çeker özlersin
İstanbul üzülmez
Nasıl nedir halin
istanbul hissetmez
(İstanbul)
İstanbul birini sevmiyorsan çekilmez
(Doğru söylüyor)

Dinle beni biraz şşt
Sen sen İstanbul sever seni sen beni seversen
Dinle beni biraz şşt
Sen sen İstanbul döver seni sen beni üzersen

Dinle beni biraz şşt
Sen sen İstanbul sever seni sen beni seversen
Dinle beni biraz şşt
Sen sen İstanbul döver seni sen beni üzersen

İstanbul sever seni sen beni öpersen

English

Istanbul

some people are just busy with their own work
some people are none but in an excitement
some people aren´t even asked about their problems
with who
(Istanbul)

some people roll up their sleeves without seeing the waters
some people gulp a bite without chewing it ://
some people don´t fall without sewing socks from head to toes
(Istanbul)

those who come to this city and ruin it
those who come to this city and are ruined
they are all boiling in the same bowl. In Istanbul
(she is right)

listen to me for a bit psssst
you you Istanbul would like you if you liked me
listen to me for a bit psssst
you you Istanbul would beat you up if you make me sad

so much souls are burning (´cause of Istanbul)
(Istanbul) makes people do many sins
Istanbul Istanbul makes the ones who run fast exhausted
but even if you want to escape you can´t
because you always think about me and I am in Istanbul
(She is right)

listen to me for a bit psssst
you you Istanbul would like you if you liked me
listen to me for a bit psssst
you you Istanbul would beat you up if you make me sad

You would leave
Istanbul wouldn´t wait
You would come and leave
Istanbul wouldn´t notice
You would agonize and miss
Istanbul wouldn´t be sad
How you´re feeling
Istanbul wouldn´t notice
(Istanbul)
Istanbul is unbearable without someone to love
(She is right)

listen to me for a bit psssst
you you Istanbul would like you if you liked me
listen to me for a bit psssst
you you Istanbul would beat you up if you made me sad (2x)

Istanbul would like you if you kissed me

Ya Toibah di Taman Putra, yang Membekas Dalam Hati

Saya pertama kali benar-benar familiar dengan lagu ini pada saat kelas 1 MTs, tahun 1999/2000. Saat itu Bapak membelikan kaset Cinta Rasul 1 yang banyak saya dengar pada saat liburan di rumah. Lagu itu pun mewarnai liburan saya di rumah yang hanya bisa saya rasakan dua hingga tiga kali dalam setahun dan memberikan kesan yang tertanam kuat dalam ingatan saya.

Kesan itu muncul seiring dengan tumbuhnya perasaan gembira yang membuncah suatu siang saat saya mendengar lagu ini dimainkan di samping Gelora Assalaam, pada saat anggota Passus sedang latihan PBB. Tergerak oleh rasa penasaran dan kesukaan pada lagu ini, saya menonton latihan itu dari taman putra. Pratama Yoga muda, yang polos bak kertas putih, menikmati Ya Toibah dalam keterkesimaan akan latihan teman-teman Passus-nya.

Saat itu, di usia  yang menginjak 11 tahun,  mungkin saya masih ‘bersih’ dan masih menyimpan harap untuk bisa melanjutkan studi di Universitas Al Azhar, Mesir. A kid with a beautiful, pure soul. Kadang saya ingin kembali ke masa itu, untuk kembali merasakan kesejukan dalam hati dan jiwa, namun saya sepenuhnya sadar bahwa hidup bergerak ke depan, bukannya ajeg dalam masa lalu. Gerak hidup ke depan ini menawarkan saya banyak hal. Enam tahun hidup di sebuah pesantren banyak mengajarkan pada saya pentingnya menjadi pribadi yang seimbang dalam moralitas, intelektualitas, dan spiritualitas. Satu tahun di negeri Paman Sam membantu saya membangun jati diri, tujuh bulan dalam pertukaran pemuda Indonesia-Kanada mengajarkan saya untuk lebih humanis, empat tahun di Semarang memberi saya kesempatan untuk menjelajahi dan mengembangkan diri, dan sepuluh hari di negeri Sakura menyentuh hati saya untuk menjalani hidup dengan cinta indah yang menghangatkan sesama.

Selama melewati perjalanan, itu saya sadar bahwa hidup juga bersifat take and give.  Maka saat saya (mungkin) berhasil memilih dan memilah dengan seksama apa yang ditawarkan kehidupan pada saya, di satu sisi saya juga kehilangan ‘kepolosan’ saya. Dalam masa lebih dari 10 tahun itu, kertas putih itu banyak tergores oleh berbagai warna, oleh kebahagiaan dan kesedihan, suka dan duka, tawa dan tangis, keberhasilan dan kegagalan, dan pembelajaran-pembelajaran yang, saya yakin,  menguatkan dan mendewasakan saya.

Kini kertas itu tak lagi putih bersih, tapi penuh warna. Namun, bagaimanapun juga apa yang terjadi pada suatu siang saat saya menikmati alunan Ya Toibah di taman putra telah memberikan warna yang kuat dan dominan dalam diri saya. Kepolosan itu akan menjadi kenangan akan mimpi dan harapan-harapan saya, serta menjadi pondasi dalam membangun diri lebih tinggi.  Dan saya merasa bersyukur  tempat saya menimba ilmu saat itu menjadi salah satu yang pertama menggoreskan warna dalam kehidupan saya.

Hujan November yang Penuh Warna


November selalu membawa hujan, seperti terlihat pada November Rain-nya Guns n Roses. Kadang, dalam hujan yang tercurah dari langit itu, ada kenangan yang turun bersamanya.


2004. Dalam hujan gerimis dan cuaca yang semakin mendingin, aku pertama kalinya menyadari bahwa memang di Amerika memang banyak hujan turun di bulan November, saat aku menyusuri jalan pintas dari sekolah ke rumah. November melancarkan proses seorang anak 16 tahun memahami perbedaan secara lebih bijak, membuka cakrawalanya, dan membantunya membangun jati dirinya.


2007. November terasa begitu dingin di setiap malam aku mengantarnya pulang. Terlebih pada suatu malam ketika kami duduk di tepi jalan di tepi rumahnya. Saat itu aku pulang kedinginan. Di rumah, Noreen segera mencarikan selimut dan membuatkan coklat panas. Dalam gerimis November, keesokan harinya kami bertemu di Danau Park. Saat itu, langit penuh dengan awan kelabu. Dalam kekelabuan, tidak ada keputusan yang diambil, dan semuanya menjadi abu-abu hingga beberapa bulan berikutnya.


2010. Gerimis di Nagoya mengiringi pertemuanku dengan keluarga Yamamura. Ada Okaasan, Ryosuke, Haruto, dan Keina. Dalam gerimis yang dingin, ada kehangatan yang kurasakan dalam kebersamaan dengan mereka. Dinginnya November juga tak menyurutkan langkahku bersama tiga orang teman dari Indonesia untuk menjelajahi Nagoya, kota yang telah mencuri hati kami. November kami di Nagoya terbingkai dalam suatu kenangan indah yang membuat kami ingin bertemu dengan kota itu lagi.


Hujan selalu membawa pelangi yang penuh warna. Hujan November pun, dari masa ke masa, selalu membawa warna-warni indah, yang abadi bertahta dalam hati.

Arus Balik rute Sragen-Gemolong-Salatiga-Semarang

Setelah lebih dari sepuluh hari liburan lebaran di rumah, akhirnya saya putuskan untuk kembali ke Semarang hari Senin, tanggal 5 September 2011. Niat saya sudah bulat. Saya ingin segera menyelesaikan sisa skripsi saya dan  mengonsultasikannya dengan dosen pembimbing karena September sudah termasuk injury time bagi mereka yang ingin lulus Oktober.

Setelah selesai packing, makan ketupat buatan Ibu, minum segelas susu (buat nambah energi :D ) dan pamitan dengan keluarga, saya berangkat dari rumah jam 11:30, memacu motor H*nda R*vo saya yang sebelumnya saya cuci dan semprot dengan silikon. Saya mengambil rute Sragen-Gemolong-Karang Gede-Salatiga-Semarang.

Lalu lintas di rute ini cukup bervariasi. Dimulai dari jalur Surabaya-Solo di Sragen. Lalu lintas cukup padat. Mobil-mobil dan motor-motor berplat jauh (B, D, L, dan sebagainya) masih begitu banyak terlihat. Di jalur ini juga saya menyalip tiga bus Sumber Kencono yang berjalan beriringan (nyalip SK, sangar po ra?:D), yang mungkin karena padatnya lalu lintas dan penambahan armada jarak antar bus menjadi sangat dekat. Dengan kecepatan melebihi 80 km/jam, saya pacu motor saya nlisep-nlisep di antara kendaraan-kendaraan lainnya. Kondisi motor yang masih prima (3 setengah tahun tapi meteran masih 14 ribuan) membuat performa saya bisa maksimal (halah). Yang jelas, saya inget pesen Bapak, “Motor ki ojo dimanja. Saya pun what-whut di jalan Sukowati hingga Pungkruk.

Di Pungkruk, saya belok kiri. Jalur Pungkruk-Gemolong juga masih ramai. Jalan yang bergelombang membuat saya harus hati-hati. Dengan metode mengemudi seperti sopir SK, saya babat habis semua kendaraan di depan saya. Setibanya di Gemolong, saya isi bensin, istirahat sebentar, lalu meneruskan track selanjutnya: Gemolong-Salatiga.

Jalan di track ini sudah cukup bagus dan masih lumayan padat. Di beberapa titik ada tanjakan dan turunan disertai tikungan yang cukup tajam. Untuk bisa melewati titik-titik ini di tengah lalu lintas yang padat, diperlukan driving skill yang cukup tinggi dan alhamdulillah saya bisa mengatasi medan yang cukup menantang dan memacu adrenalin tersebut (Ok, saya akui ini lebay :D )

Kemudian, saya masuk track Salatiga-Semarang. Track ini masih sangat padat. Dari Tingkir hingga Bawen sebenarnya tidak begitu padat. Bahkan di tanjakan Bawen saya bisa memacu motor saya hingga 100 km/jam. Namun memasuki Karangjati, lalu lintas menjadi semakin padat. Lalu lintas sempat merayap di beberapa titik.

Setelah Ungaran, here the worst traffic happened. Dari daerah Kodam hingga Sukun, lalu lintas benar-benar padat merayap. Saya terus mengambil lajur kiri dan beberapa kali keluar aspal untuk mencari jalan. Memasuki Banyumanik, kepadatan semakin menggila. Awalnya saya berniat belok kanan, lewat jalan pintas menuju Tembalang, tapi ternyata jalan ke kanan ditutup, begitu juga jalan ke kanan di pertigaan Sukun. Walhasil, saya terpaksa lurus terus hingga patung kuda UNDIP, lalu belok kanan dan melewati Ngesrep.

Jam 2:44 sore akhirnya saya sampai kos dengan selamat. Alhamdulillah. Now, kehidupan di Semarang dimulai. Kembali lagi ke rutinitas sehari-hari. Kembali lagi ke kampus dan tempat-tempat beraktivitas lainnya. Kembali mencari pengalaman untuk mematangkan, mendewasakan, dan memperkaya diri. Bismillah.

PS: Sorry, no picture available. Hora kober moto-moto. :D

 

Theme Songs Bilateral Work Camp IIWC Indonesia-VYA Taiwan Borobudur 13-26 Juli 2011

Kadang, ada lagu yang dapat mewakili suatu kenangan yang sangat kuat, yang jika kita dengarkan dapat membawa kita seolah kembali merasakan kenangan itu. Selama saya mengikuti kemah kerja IIWC Indonesia-VYA Taiwan di Borobudur tanggal 13-26 Juli 2011 ada beberapa lagu yang seolah menjadi theme song dari work camp:

1. Yumemiru Ai Tenshi
Lagu ini yang menemani saya muter-muter Borobudur ngurus makan siang,nge-deal-in jadwal ma local partner, jalan sendirian dari sekolah ke campsite dan dari kantor Balai Konservasi ke candi, mandi, santai-santai di sofa di campsite. So much memory in it.

2. Yue Liang Dai Biao De xin/ The Moon Represents My Heart – Teresa Teng

Ini lagu yang sering dinyanyikan teman-teman Taiwan di malam hari, saat bulan purnama bersinar menerangi malam di Borobudur. Ini juga lagu yang saya pelajari dari mereka, dimana Ron dan Lavender benar-benar meluangkan waktu untuk mengajari saya. Lagu ini juga kami nyanyikan saat Taiwan Day. Again, so much memory in it.

3. Ni Yao De Ai/ The Love You Want – Penny Tai
Soundtrack Meteor Garden ini juga salah satu lagu yang sering kami bahas di workcamp. Bagi saya, lagu ini benar-benar mewakili Taiwan.

4. Bukit Berbunga
Lagu yang saya dengar di bus TransJogja saat menjemput teman-teman Taiwan di bandara Adi Sucipto Jogja ini yang menghibur saya dari kegalauan karena hape mati di terra incognito dan kekhawatiran jika teman-teman Taiwan menunggu terlalu lama di bandara. Lirik dan melodinya yang romantis menginspirasi saya untuk berimajinasi jika saya dapat mengajak ‘adek cantik berkaca mata yang tatap matanya tidak pernah dapat saya artikan’ mendaki bukit di dekat Borobudur dan meluangkan waktu menikmati senja berdua di sana. :D

 
Verba volant, scripta manent.

East Asian Effects

Entah kenapa satu tahun terakhir ini Tuhan lebih mendekatkan saya pada Asia Timur. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang didominasi oleh Amerika Utara, tahun-tahun terakhir ini pengaruh Asia Timur saya rasakan begitu kuat dalam diri saya. Pengaruh itu merasuk ke dalam budaya pop yang saya minati, orientasi belajar meneruskan pendidikan, dan sebagainya.

Jepang

Awalnya perhatian saya  pada Jepang dalam hal budaya dan pendidkan tidak seperti pada Amerika Utara dan Eropa. Bahkan hingga saya terpilih mewakili universitas saya dalam kunjungan budaya ke Nagoya University bulan November 201o, belum ada perasaan apa-apa pada Jepang. Namun, semuanya berubah ketika saya memulai perjalanan saya ke sana. Kemajuan teknologi, keramahan masyarakat, dan pemandangan eksotis yang belum pernah saya lihat sebelumnya benar-benar bisa membuat Jepang mencuri hati saya.

Kunjungan ke Jepang terasa begitu spesial karena untuk kali pertama saya melihat negara maju di Asia, setelah beberapa kali melihat Amerika Utara dan lewat di Eropa. Perasaan spesial itu ditambah lagi dengan sambutan host family, para dosen dan teman-teman di sana yang luar biasa hangat. Perlu saya akui, saat itu rasa cinta saya pada Jepang yang baru saja muncul tumbuh begitu cepat dan begitu kuat. Nihon, suki des.

Effect: muncul orientasi untuk melanjutkan studi di sana, lebih sering mendengarkan lagi-lagu Jepan (AKB 48′s songs, Moonlight Densetsu, Yumemiru Ai Tenshi), mencoba memainkan klub Jepang di J-League dalam Championship Manager.

Korea

Saat budaya pop Korea membanjiri Indonesia, saat teman-teman saya menggilai sinetron dan band Korea, awalnya saya bersikap agak skeptis. Hingga akhirnya saya sempatkan melihat kumpulan film dan video clip band-band Korea di laptop adik saya. Entah kenapa saat itu tiba-tiba saja muncul perasaan tertarik pada budaya Korea, terlebih saat melihat video clip SNSD :D .

Puncaknya saat kunjungan budaya ke Nagoya, saya bertemu dengan teman-teman delegasi dari Seoul National University. Di saat itulah, saya mendapat kesempatan untuk lebih mengenal budaya Korea. Sejak saat itu, saya merasa ikatan saya dengan Korea semakin menguat. Hankuk, saranghae.

Effect: more crazy about Korean pop culture, lebih familiar dengan Korean girl bands (boyband? Hmmm…not so much. :D )

Taiwan

Taiwan influence bermula ketika saya mendaftar sebagai camp leader di work camp IIWC.  Seolah seperti jodoh, saya ditempatkan dalam bilateral work camp dengan VYA Taiwan . Jadilah saya camp leader bersama teman saya Mamum dalam Borobudur bilateral work camp kerja sama IIWC Indonesia dengan VYA Taiwan selama 2 minggu di Borobudur Juli 2011.

Work camp bersama teman-teman Taiwan memberi pengalaman, pembelajaran, dan kenangan yang sangat berharga pada diri saya. Dua minggu kami habiskan bersama melakukan kegiatan-kegiatan kerelawanan dan pembelajaran budaya. Sebagai camp leader, saya benar-benar harus bertanggung jawab untuk memastikan semuanya berjalan lancar, sampai pada titik dimana saya merasa melakukan semuanya demi orang-orang yang saya kasihi. Saya sepenuhnya sadar bahwa saya bertemu dengan mereka pertama kali di bandara Adi Sucipto Jogja sebagai orang lain dan berpisah di tempat yang sama dua minggu kemudian sebagai keluarga. Taiwan, wo ai ini.

Effect: Tiada hari tanpa Chinese music (kok Chinese? Lha iya, wong bahasanya Taiwan kan China); Yue Liang Dai Biao De Xin, Ni Yao De Ai.

When I Pursue a Different Dream

I was born to a couple of parents whose profession is civil servant. Being a civil servant in a country side has really given them a quite high social status as well as respect from the local community. I often observed how my neighborhood would treat them with high respect and often regard them as the source of knowledge, director of change, and decision maker for the village, a quite powerful position.

Having enjoyed such a position, my parents seem to direct me and my sisters to take their path, to be civil servants just like them. We often had a discussion about my sisters’ and my future and often they implicitly brought up the idea of taking part in civil servant formation, something I myself have a doubt of following. Personally, I see no problem with being civil servant, but there’s something else that attracts me and captivates my heart.

If I take my parents’ idea, after graduation I will go home to hometown then prepare myself for regional civil servant selection. If I get selected, then I will start my new status as a young civil servant, going to office in the morning and going home in the afternoon, then marry a local girl (whose profession is perhaps the same as mine), have a happy family, yet live in the small town and face the consequence of experiencing slow vertical mobility. My role in the society will be highly likely the same as my parents’. Quite interesting, but I would say, quite simple as well. Perhaps, a lot of youth in my area pursue this dream, but I don’t share the same dream.

I have tried hard to my best to develop myself to catch up with the fast moving world, getting familiar with such global issues as hunger and poverty, climate change, international conflict, and gender equity. I also tried to find experience through such activities as participating in Model United Nations, organizing local and national seminars, leading organizations, being a camp leader in an international NGO, and participating in international student exchange program. For months I have deliberated over my choice and came to a conclusion that I will not be able to fully develop myself if I choose to take a road in a rural area and living a small, simple dream. I have a bigger dream and a higher aspiration for this nation and the world, and therefore have to find a right habitat to live and make them come true.

This is something that I hope my parents would understand that their son has different passion, pursues a different dream, and has developed himself in a road different from they think right; that the form of happiness I imagine may be different from what they expect me to have. I love how an author put it,”People take different road seeking fulfilment and happiness. Just because they are not on your road doesn’t mean that they get lost.” Yes, don’t worry, Mom and Dad. Even if the road I take may not look right in your opinion, it leads to happiness too, a form of happiness that fits with my passion. And trust me, your happiness takes precedence over anything in my life, even though I may not agree with everything you say.

Your Children are not Your Children

They are the sons and daughters of life’s longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.

You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams.

You may strive to be like them, but seek not to make them like you. For life goes not backward nor tarries with yesterday. 

-Kahlil Gibran-

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 607 other followers