Mamah Pengen Ketemu

“Mas Yog, kapan-kapan maen ke rumah ya? Mamah pengen ketemu…”
Selepas sholat maghrib, masih di atas sajadah, saya pandangi sms yang saya terima pagi itu dan belum sempat saya balas. Saya masih bingung bagaimana harus membalasnya.

Saya baru sekali bertemu dengan mamahnya, orang tuanya satu-satunya setelah ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu, saat mengantarkan ia pulang selepas menjadi panitia sebuah seminar nasional, dua tahun yang lalu saat saya duduk di semester delapan dan ia duduk di semester empat. Saat itu, terjadi obrolan singkat, sekedar basa-basi, tentang kuliah, kegiatan di kampus, dan tentang dirinya.

Mamahnya banyak bercerita tentang kegiatannya yang sangat padat, mulai dari organisasi di kampus hingga kerja paruh waktu.
“Sering Mas, pergi pagi-pagi terus pulang malam. Pernah jam sebelas baru sampai rumah. Sebagai ibu, saya khawatir, Mas. Takut kenapa-kenapa.”
“Kuliahnya sendiri bagaimana Bu?”
“Ya alhamdulillah, semester kemarin katanya masih di atas tiga koma lima. Kadang kalau ngerjain tugas gitu sampe malam. Kadang Ibu kalau bangun buat sholat malam gitu sering lihat dia masih ngerjain tugas di depan laptop. Di satu sisi, saya seneng Mas anaknya semangat, tapi juga kasihan.”
Saya saat itu bingung harus menjawab bagaimana, sehingga lebih sering diam dan mendengarkan.
“Mbok dibimbing Mas, dinasihati. Dia itu nurutnya sama orang yang lebih dari dia.”
Saya tiba-tiba terhenyak.

Maka, bimbingan saya kepadanya terwujud pada arahan-arahan saya di perkuliahannya: menjelaskan beberapa teori yang belum ia pahami, mengoreksi paper-paper-nya, hingga membantunya mencari ide untuk skripsi, dan mengoreksi proposal skripsinya, dalam kegiatan-kegiatan yang ingin diikutinya: seleksi pertukaran pelajaran, PKM, PMW, mawapres, dan hal-hal lain: menelaah cerpen dan artikel yang akan ia kirimkan ke media massa, membantu mendesain blog-nya, dan lain sebagainya. Pun demikian, tetap saya ingatkan ia untuk menjaga kesehatan dan untuk tidak pulang terlalu malam.
“Maem dan istirahatnya dijaga. Kasihan mamah kalau sampai sakit.”

Di sisi lain, semangatnya yang tak pernah padam ini selalu menjadi inspirasi bagi saya. Saya pun menikmati kedekatan saya dengannya, karena dengan begitu, saya ikut terbakar kobaran api di jiwanya yang terus menyala. Ia tidak tahu, pancaran energinya mengangkat saya setiap kali saya terjatuh: gagal di wawancara kerja, gagal di lamaran beasiswa S2, dan kejatuhan-kejatuhan lainnya, dan pancaran energi itu yang menerbangkan saya ke angkasa, mewujudkan impian-impian saya, meraih tujuan-tujuan hidup saya.

Dan sosok mamahnya yang begitu lembut dan welas asih itu, selaksa embun pagi yang membawa kesejukan.
Ah, tiba-tiba saya ingin merasakan kesejukan itu kembali, setelah dua tahun tak bertemu dengan beliau.

Di layar monitor handphone, saya ketik:
“Ya insya Allah. Yang pengen ketemu kamu ato Mamah? :p”
namun belum sempat saya kirim, tiba-tiba datang,
“Masssssss,,,,kok ga dibalessss?????????”
Saya pun membalas:
“Iyyaaaaaahhhhh, kapan ada waktu???????????????”

Posted on February 21, 2012, in Article. Bookmark the permalink. Leave a Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 607 other followers