Jika Ia Enggan Mendampingimu di Masa Sulitmu, Maka Ia Tidak Pantas Mendampingimu di Masa Jayamu

Jam menunjukkan pukul 2 lewat dan aku masih duduk menatap layar monitor laptop. Artikel tentang  krisis ekonomi Eropa dan hutang Amerika sudah hampir selesai. Di sepertiga malam terakhir seperti ini  biasanya akan terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaan istriku, Husna, mendirikan sholat malam, bermunajat kepada Dia yang menyatukan kami dalam ikatan yang halal.

Kebiasaan ini dimulainya sejak dia masih SMA dan dijaganya dalam keistiqomahan hingga kini. Saat kami harus berjauhan karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskanku untuk sering bepergian ke luar kota atau bahkan luar pulau, sering ia kirimkan pesan singkat.
“Mas, sholat dulu.”
“Kangen sholat malam sama kamu, Mas.”

Kebiasaan ini, dan sunnah-sunnah lain yang dilaksanakannya, membuatku semakin yakin untuk datang ke rumahnya, enam tahun yang lalu. Dan dalam waktu enam tahun itu, aku merasa sangat bersyukur bisa dipersatukan dengannya, meski aku harus sering meninggalkannya, pertama untuk melanjutkan sekolah di luar negeri, dan kedua karena tuntutan karir.

“Sholat dulu, Mas.” Kurasakan sentuhan tangannya di pundakku. Aku menurut saja. Tampaknya, Allah telah menjadikan kenikmatan di setiap sholat malamku dengannya. Di setiap sepertiga malam yang kulalui dengan Husna, serasa hanya ada kami bertiga di ruang sholat di rumah kami: aku, dia, dan Dia. Di saat itulah, dalam dzikirku, kuucapkan syukur tak terkira atas kepercayaanNya mengamanahkan Husna padaku, dan dalam istighfarku, aku memohon ampunan jika secara sadar atau tidak sadar aku telah berlaku salah telah mendzaliminya. Meski Husna jarang marah atau memprotes sikapku, aku tak pernah benar-benar tahu isi hatinya, dan ini yang kutakutkan. Aku tak pernah benar-benar tahu yang tersembunyi di balik ramah senyumnya.

Selesai sholat, aku kembali ke meja kerjaku, melanjutkan menulis artikel yang sempat tersela. Sudah tiga bulan ini aku hampir-hampir tanpa pekerjaan setelah aku memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak dengan perusahaanku dulu. Aku pun mencoba mencari peruntungan dengan mengirimkan artikel ke beberapa media massa. Hasilnya tidak begitu banyak, dan kami terpaksa hidup dari uang tabungan. Aku sendiri tidak memaksa ataupun melarang Husna untuk bekerja. Kuizinkan ia berkembang selama tidak melupakan hak dan kewajibannya sebagai seorang istri dan seorang ibu, karena iapun tak pernah keberatan aku mengembangkan diri, dan Husna pun bekerja di sebuah perusahaan swasta.

Sekarang, aku ingin mencari pekerjaan baru di kotaku. Salah satunya alasannya agar aku bisa lebih meluangkan waktu dengan Husna dan Laila, putri kami satu-satunya. Aku merasa sangat bersalah telah terlalu sering meninggalkannya. Tak bisa kubayangkan betapa berat bebannya harus ia tanggung saat harus membesarkan Laila sendirian, memandikannya, menyuapinya, mengantarkannya ke sekolah, dan meninabobokannya. Kadang Husna mengirimkan sms,”Mas, Laila rewel. Nangis terus, ga mau bobo. Kangen ayahnya mungkin.” Ah, Husna….

Dulu, saat kandungan Husna menginjak bulan keenam, kami pernah berkelakar,
“Mas, kalo entar punya anak, bagi-bagi tugas ya.”
“Gimana?”
“Kalo aku yang mandiin dia, entar Mas yang nyuapin dia.”
“Terus?”
“Kalo aku yang ngajarin dia doa sehari-hari, entar Mas yang ngajarin dia ngaji.”

Ah, tapi hingga Laila masuk TK sekarang, rencana itu tak pernah terwujud. Bahkan saat Husna berjuang  antara hidup dan mati melahirkan Laila, aku tak mampu hadir di sampingnya untuk menguatkannya karena masih melanjutkan studiku di negeri seberang.  Maafkan aku, Husna. Maafkan aku jika hidup yang kita  jalani tak seindah yang kita rencanakan. Aku semakin merasa bersalah jika melihat betapa kontras kehidupan bersamaku dengan kehidupannya saat masih dalam tanggungan abahnya. Bisa dibilang, Husna
melakukan banyak pengorbanan dan merelakan banyak hal saat memutuskan menerima pinanganku.

Dulu Husna tinggal di sebuah rumah yang cukup besar dan nyaman, dan kini aku baru bisa memboyongnya ke sebuah rumah yang cukup sederhana, mungkin terlalu sederhana untuk Husna yang terbiasa hidup sangat berkecukupan dengan fasilitas yang memanjakannya. Dulu Husna kemana-mana tak pernah kepanasan karena memakai mobil abah, dan sekarang aku baru bisa memberinya sepeda motor. Gajiku pun belum bisa membelikannya mobil. Paling tidak, aku tidak ingin dia kehujanan atau kepanasan saat mengantar atau menjemput Laila.

“Mas, mau kubuatin kopi?” seru Husna tiba-tiba dari ruang sholat sambil melipat mukenanya, memecah lamunanku.
“Nggak sah, dek.”
“Susu?”
“Enggak, nggak sah.”

Aku kembali mencoba kembali fokus ke monitor, menatap artikel yang akan kukirimkan ke media massa lokal. Tak berapa lama kemudian Husna datang dengan segelas susu hangat, lalu duduk di kursi di sampingku.

“Diminum dulu, Mas, buat nambah tenaga.”
Aku hanya tersenyum, masih fokus ke monitor.
“Mas…”
“Hmmm..”
“Mas kok akhir-akhir ini kelihatan murung? Kenapa, Mas?”

Konsentrasiku buyar. Aku menghela nafas. Tampaknya, aku perlu mengomunikasikan apa yang kurasakan, atau setidaknya meminta maaf padanya. Kugenggam tangan lembutnya. Ku tatap wajahnya yang selalu terhiasi senyum. Ah, wajah itu masih sama cantiknya seperti saat aku pertama kali melihatnya di seminar kampus tujuh tahun yang lalu.

“Husna, maafkan mas ya.”
“Kok Mas ngomong gitu?”
Aku menghela nafas lagi.
“Mungkin apa yang kita lalui sekarang, jauh berbeda dengan saat-saat Husna masih bersama Abah dulu. Mas merasa….” aku terhenti, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Aku terdiam cukup lama dan baru kembali tersadar ketika tiba-tiba Husna mengeratkan genggamannya. Ia seolah tahu apa yang kupikirkan. Ini yang membuatku heran. Dia selalu bisa membaca pikiranku. Ku tatap wajahnya lebih lekat.
“Ndak apa-apa, Mas.” Husna menggelengkan kepala. Ada keteduhan di wajahnya.
“Tapi, dek…”
“Mas,” selalu ada kesejukkan yang kurasakan tiap kali ia memanggilku dengan lembut,”Mas dulu kan pernah bilang,’Jika ia enggan mendampingimu di masa sulitmu, maka ia tidak pantas mendampingimu di masa jayamu’. Aku ingin menjadi sosok yang pantas mendampingi Mas di masa jaya Mas nanti. Husna percaya, suatu saat nanti Allah akan memberikan jalan untuk kita selama kita terus berikhtiyar, berdoa, dan bertawakkal.”
Ku tatap Husna dalam-dalam.
“Untuk itu Mas, izinkan Husna mendampingi Mas di masa sulit Mas, sesulit apapun itu.”
Hatiku tiba-tiba basah, dan bergetar.
Ya Allah, terima kasih telah mengirimkan sosok berhati emas seperti Husna. Terima kasih telah mempercayakan sosok indah itu padaku yang masih perlu banyak belajar dan memperbaiki diri. Ya Allah, hamba mohon petunjukMu untuk memuliakan dan membimbingnya dengan kasih sayang untuk menggapai ridha dan surgaMu.
Aku tersenyum.
“Laila sudah hafal doa apa aja, dek?”
“Banyak Mas, tapi hafalan suratnya masih dikit, tajwidnya juga masih banyak yang salah.”
Aku tersenyum lagi.
Husna….

Advertisement

Posted on January 23, 2012, in Literature Work. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Ah saya kangen cerpen-cerpenmu Yog :)

  2. yogaslavianarmy

    Yos!
    Semua cerpenku ku stor di kategori Literature Works.
    Mohon comment-nya ya.
    Dan kali ini, lagi-lagi aku dituduh curcol. Banyak yang tanya,”Ini pengalaman pribadi?” “Ini beneran terjadi.” :D :D

  3. suatu hari aq akan bilang padanya “rumahq kita mgkn bukan surga tapi insyaALLAH serambinya…”

  4. واحد مصطفي

    wonderfull story, cerita insperatif dan menjiwai….
    sebuah refleksi ketidaksadaran diri. Good!

  5. Ujian untuk seorang istri adl ktka sang suami dlm masa sulit…
    Namun ujian untuk seorang suami adl ktka dirinya dlm masa jaya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 459 other followers