Izinkan Aku Mengikhlaskanmu di Dunia dan Akhirat


Aku tak tahu kenapa baru sekarang takdir membawaku ke kotamu, setelah empat tahun sejak kau minta diriku untuk datang.
“Kapan-kapan ke sini lah.” pintamu saat itu lewat telepon.
“Ngapain?”
“Ya maen ke tempatku, ketemu aku.”
“Ya, kalo ada kesempatan ya.” jawabku diplomatis.

Saat itu kita masih sama-sama muda dan masih sering saling menelepon dan berkirim pesan singkat. Namun dalam empat tahun, ada banyak hal yang berubah. Termasuk kebiasaan kita yang dulu. Bisa jadi, perubahan kebiasaan ini karena perubahan hati. Meski aku tak pernah benar-benar tahu isi hatimu.

Aku tak mau salah sangka setiap kali kau mengirimkan pesan singkat padaku, atau memintaku untuk meneleponmu. Aku tak ingin salah menafsirkan telepon-teleponmu setelah kau terjatuh dari motor, atau saat kau akan menghadapi ujian dan meminta motivasi dariku, atau saat kau bercerita tentang pria-pria yang mendekatimu. Aku suka mendengar cerita-ceritamu dan suaramu. Aku berikan semua yang kaupinta, pendengaranku, waktuku, dan perhatianku, kecuali satu yang belum bisa kupenuhi: datang ke kotamu. Kita pun membiarkannya mengalir begitu saja dan menikmati keindahan alirannya.

Kita memang sempat terpisah jarak tujuh jam perjalanan namun kita sama-sama tahu hati kita pernah begitu dekat. Tujuh jam bukan jarak yang singkat untuk kutempuh, terlebih dengan kesibukanku di kotaku. Kuliah dan kegiatan lain kadang membuat orang-orang di kosku geleng-geleng kepala,”Kamu tu, berangkat pagi pulang malam, tiap hari begitu, sebenarnya ngurusi apa to?” Maka, aku perlu meminta maaf jika kedekatan hati kita tak bisa kuturutkan dengan kedekatan raga.

Sekarang, saat raga kita bisa sangat dekat, kita sama-sama tahu, hati kita tak sedekat dulu. Empat tahun telah membawa warna dan sosok-sosok baru dalam kehidupan kita, dan aku pun perlahan menarik diri dari kehidupanmu, terlebih saat ku sadar, jalan yang akan kita tempuh tak semulus yang kita harapkan.
“Aku ingin menikah dengan orang yang dekat rumah saja” katamu suatu saat.
“Kalo rumahnya di kotaku, dekat ga?”
“Ya jauh, paling ga, dia tinggal di kotaku.”

Saat itu, aku masih butuh satu tahun untuk merampungkan pendidikanku dan mungkin beberapa tahun sebelum memberanikan diri datang ke rumahmu. Kita pun mulai jarang berhubungan, sama-sama disibukkan dengan dunia masing-masing, mungkin. Dan hati yang dulu begity dekat, perlahan menjauh, dan dipertemukan dengan hati yang lain. Kau dipertemukan dengannya, pria yang tinggal sekota denganmu, dan aku dipertemukan dengan gadis-gadis lain, namun kau perlu tahu, tak ada yang sepertimu. Mungkin ia bisa menggantikanku di hatimu, namun mereka tak bisa menggantikanmu di hatiku.

Aku tak tahu kenapa takdir sering mempertemukan kita di kotamu. Di bank, di rumah makan, di pasar malam, dan di tempat-tempat lain. Aku sendiri dan kadang bersama teman-teman kantorku, dan kau selalu bersamanya, pria yang kini dekat dengan hatimu itu. Kita pun bertegur sapa, dan aku pun berkenalan dengannya, mengobrol dengannya. Namun kita sama-sama tahu, ada getaran dalam hati kita. Ada yang bisa kutangkap dari sorot matamu, dan aku yakin kau bisa memahami perasaanku lewat sorot mataku.

Kalian katakan padaku rencana pernikahan kalian beberapa bulan lagi. Aku bisa melihat betapa bahagianya dia saat mengatakan itu dan ku katakan aku turut bahagia mendengarnya, namun apa yang sebenarnya kurasakan dalam hati, semoga tidak merusak hubunganmu dengannya. Aku tak ingin masa lalu kita menjadi perusak kesetiaanmu padanya. Bagaimanapun juga, dia yang akan menghiburmu saat kau bersedih, menghapus airmatamu saat kau menangis, mengangkatmu saat kau jatuh, mengingatkanmu saat kau salah melangkah, dan mendampingimu menjalani hidup.

Kau gadis yang sangat baik, dan beruntunglah ia yang sebentar lagi menyandingmu.
Tentu kau masih ingat,”Wanita sejati tidak dilihat dari seberapa banyak pria yang mengejarnya, tapi dari kesetiaannya pada pria yang mendampinginya.” Aku ingin kau menjadi wanita sejati dengan memberikan kesetiaanmu seutuhnya kepadanya serta menjaga hati dan perasaannya, dan aku akan melanjutkan hidupku, tanpamu. Aku akan membuka diri pada hubungan denganmu, namun tidak untuk membuka hati. Aku akan terus memgagumimu, namun tidak akan mencintaimu. Biarlah masa lalu kita menjadi pembelajaran yang dapat kaugunakan untuk memuliakannya, dan ku gunakan untuk memuliakan penggantimu.

Dan sekarang, izinkan aku mengikhlaskanmu, di dunia dan di akhirat. :)

Advertisement

Posted on January 21, 2012, in Literature Work. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. #np Someone like you, Adelle, :D

  2. Ga nyangka…. nT jago nulis juga mas bro….ane jadi terharu baca tulisan nT… mantap…

  3. blog walking here…
    salam kenal mas Yoga…
    please visit my blog on http://desioktariana.blogspot.com/

  4. Saya sudah berkunjung dan membaca…rasanya saya nih yang perlu belajar dari dirimu…:)

  5. yogaslavianarmy

    Hasna: #NP Aku Bukan Pilihan Hatimu – Ungu :D

    Rifki: Hehehe, masih belajar kok ,bro. Ente ad blog, bro?

    Desi: Hi Desi, YLI angkatannya Dini, Resha, and Putri ya? I’ve visited your blog. It’s cool. Wanna link to each other?

    Mbak Andi Metta: :) “Kita sama-sama belajar yah.” :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 459 other followers