Monthly Archives: January 2012
Jika Ia Enggan Mendampingimu di Masa Sulitmu, Maka Ia Tidak Pantas Mendampingimu di Masa Jayamu
Jam menunjukkan pukul 2 lewat dan aku masih duduk menatap layar monitor laptop. Artikel tentang krisis ekonomi Eropa dan hutang Amerika sudah hampir selesai. Di sepertiga malam terakhir seperti ini biasanya akan terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaan istriku, Husna, mendirikan sholat malam, bermunajat kepada Dia yang menyatukan kami dalam ikatan yang halal.
Kebiasaan ini dimulainya sejak dia masih SMA dan dijaganya dalam keistiqomahan hingga kini. Saat kami harus berjauhan karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskanku untuk sering bepergian ke luar kota atau bahkan luar pulau, sering ia kirimkan pesan singkat.
“Mas, sholat dulu.”
“Kangen sholat malam sama kamu, Mas.”
Kebiasaan ini, dan sunnah-sunnah lain yang dilaksanakannya, membuatku semakin yakin untuk datang ke rumahnya, enam tahun yang lalu. Dan dalam waktu enam tahun itu, aku merasa sangat bersyukur bisa dipersatukan dengannya, meski aku harus sering meninggalkannya, pertama untuk melanjutkan sekolah di luar negeri, dan kedua karena tuntutan karir.
“Sholat dulu, Mas.” Kurasakan sentuhan tangannya di pundakku. Aku menurut saja. Tampaknya, Allah telah menjadikan kenikmatan di setiap sholat malamku dengannya. Di setiap sepertiga malam yang kulalui dengan Husna, serasa hanya ada kami bertiga di ruang sholat di rumah kami: aku, dia, dan Dia. Di saat itulah, dalam dzikirku, kuucapkan syukur tak terkira atas kepercayaanNya mengamanahkan Husna padaku, dan dalam istighfarku, aku memohon ampunan jika secara sadar atau tidak sadar aku telah berlaku salah telah mendzaliminya. Meski Husna jarang marah atau memprotes sikapku, aku tak pernah benar-benar tahu isi hatinya, dan ini yang kutakutkan. Aku tak pernah benar-benar tahu yang tersembunyi di balik ramah senyumnya.
Selesai sholat, aku kembali ke meja kerjaku, melanjutkan menulis artikel yang sempat tersela. Sudah tiga bulan ini aku hampir-hampir tanpa pekerjaan setelah aku memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak dengan perusahaanku dulu. Aku pun mencoba mencari peruntungan dengan mengirimkan artikel ke beberapa media massa. Hasilnya tidak begitu banyak, dan kami terpaksa hidup dari uang tabungan. Aku sendiri tidak memaksa ataupun melarang Husna untuk bekerja. Kuizinkan ia berkembang selama tidak melupakan hak dan kewajibannya sebagai seorang istri dan seorang ibu, karena iapun tak pernah keberatan aku mengembangkan diri, dan Husna pun bekerja di sebuah perusahaan swasta.
Sekarang, aku ingin mencari pekerjaan baru di kotaku. Salah satunya alasannya agar aku bisa lebih meluangkan waktu dengan Husna dan Laila, putri kami satu-satunya. Aku merasa sangat bersalah telah terlalu sering meninggalkannya. Tak bisa kubayangkan betapa berat bebannya harus ia tanggung saat harus membesarkan Laila sendirian, memandikannya, menyuapinya, mengantarkannya ke sekolah, dan meninabobokannya. Kadang Husna mengirimkan sms,”Mas, Laila rewel. Nangis terus, ga mau bobo. Kangen ayahnya mungkin.” Ah, Husna….
Dulu, saat kandungan Husna menginjak bulan keenam, kami pernah berkelakar,
“Mas, kalo entar punya anak, bagi-bagi tugas ya.”
“Gimana?”
“Kalo aku yang mandiin dia, entar Mas yang nyuapin dia.”
“Terus?”
“Kalo aku yang ngajarin dia doa sehari-hari, entar Mas yang ngajarin dia ngaji.”
Ah, tapi hingga Laila masuk TK sekarang, rencana itu tak pernah terwujud. Bahkan saat Husna berjuang antara hidup dan mati melahirkan Laila, aku tak mampu hadir di sampingnya untuk menguatkannya karena masih melanjutkan studiku di negeri seberang. Maafkan aku, Husna. Maafkan aku jika hidup yang kita jalani tak seindah yang kita rencanakan. Aku semakin merasa bersalah jika melihat betapa kontras kehidupan bersamaku dengan kehidupannya saat masih dalam tanggungan abahnya. Bisa dibilang, Husna
melakukan banyak pengorbanan dan merelakan banyak hal saat memutuskan menerima pinanganku.
Dulu Husna tinggal di sebuah rumah yang cukup besar dan nyaman, dan kini aku baru bisa memboyongnya ke sebuah rumah yang cukup sederhana, mungkin terlalu sederhana untuk Husna yang terbiasa hidup sangat berkecukupan dengan fasilitas yang memanjakannya. Dulu Husna kemana-mana tak pernah kepanasan karena memakai mobil abah, dan sekarang aku baru bisa memberinya sepeda motor. Gajiku pun belum bisa membelikannya mobil. Paling tidak, aku tidak ingin dia kehujanan atau kepanasan saat mengantar atau menjemput Laila.
“Mas, mau kubuatin kopi?” seru Husna tiba-tiba dari ruang sholat sambil melipat mukenanya, memecah lamunanku.
“Nggak sah, dek.”
“Susu?”
“Enggak, nggak sah.”
Aku kembali mencoba kembali fokus ke monitor, menatap artikel yang akan kukirimkan ke media massa lokal. Tak berapa lama kemudian Husna datang dengan segelas susu hangat, lalu duduk di kursi di sampingku.
“Diminum dulu, Mas, buat nambah tenaga.”
Aku hanya tersenyum, masih fokus ke monitor.
“Mas…”
“Hmmm..”
“Mas kok akhir-akhir ini kelihatan murung? Kenapa, Mas?”
Konsentrasiku buyar. Aku menghela nafas. Tampaknya, aku perlu mengomunikasikan apa yang kurasakan, atau setidaknya meminta maaf padanya. Kugenggam tangan lembutnya. Ku tatap wajahnya yang selalu terhiasi senyum. Ah, wajah itu masih sama cantiknya seperti saat aku pertama kali melihatnya di seminar kampus tujuh tahun yang lalu.
“Husna, maafkan mas ya.”
“Kok Mas ngomong gitu?”
Aku menghela nafas lagi.
“Mungkin apa yang kita lalui sekarang, jauh berbeda dengan saat-saat Husna masih bersama Abah dulu. Mas merasa….” aku terhenti, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Aku terdiam cukup lama dan baru kembali tersadar ketika tiba-tiba Husna mengeratkan genggamannya. Ia seolah tahu apa yang kupikirkan. Ini yang membuatku heran. Dia selalu bisa membaca pikiranku. Ku tatap wajahnya lebih lekat.
“Ndak apa-apa, Mas.” Husna menggelengkan kepala. Ada keteduhan di wajahnya.
“Tapi, dek…”
“Mas,” selalu ada kesejukkan yang kurasakan tiap kali ia memanggilku dengan lembut,”Mas dulu kan pernah bilang,’Jika ia enggan mendampingimu di masa sulitmu, maka ia tidak pantas mendampingimu di masa jayamu’. Aku ingin menjadi sosok yang pantas mendampingi Mas di masa jaya Mas nanti. Husna percaya, suatu saat nanti Allah akan memberikan jalan untuk kita selama kita terus berikhtiyar, berdoa, dan bertawakkal.”
Ku tatap Husna dalam-dalam.
“Untuk itu Mas, izinkan Husna mendampingi Mas di masa sulit Mas, sesulit apapun itu.”
Hatiku tiba-tiba basah, dan bergetar.
Ya Allah, terima kasih telah mengirimkan sosok berhati emas seperti Husna. Terima kasih telah mempercayakan sosok indah itu padaku yang masih perlu banyak belajar dan memperbaiki diri. Ya Allah, hamba mohon petunjukMu untuk memuliakan dan membimbingnya dengan kasih sayang untuk menggapai ridha dan surgaMu.
Aku tersenyum.
“Laila sudah hafal doa apa aja, dek?”
“Banyak Mas, tapi hafalan suratnya masih dikit, tajwidnya juga masih banyak yang salah.”
Aku tersenyum lagi.
Husna….

Aku Ingin Mereka Abadi dalam Tulisanku

Aku ingin mengabadikan kegelisahan, keresahan, ketakutan, kegembiraan, dan kebahagiaan yang kutangkap dari orang-orang di sekitarku, dalam tulisan-tulisanku. Verba volant, scripta manent.
Aku ingin menyelami perasaan seorang wanita muda yang makan malam di sebuah warung kaki lima bersama suaminya selepas pulang kerja pukul 11 ketika jalanan sudah sepi. Aku ingin merasakan perasaan seorang ibu-ibu yang kutemui di bus dalam perjalanan Sragen-Semarang, yang membawakan ayam goreng kesukaan putrinya yang kuliah di Semarang. Aku ingin menyatu dalam ke dalam amarah seorang teman yang tahu pacarnya menduakannya dengan pria lain. Aku ingin mencicipi kekecewaan seorang sarjana yang selalu gagal mendapatkan pekerjaan. Aku ingin masuk dalam keresahan pedagang asongan yang menjajakan jualannya di bus-bus antarkota, yang mungkin harus membelikan buku dan seragam untuk anak-anaknya yang masih sekolah. Aku ingin merasakan beban seorang penjual bakso yang memikul pikulan bakso berjalan berkilometer-kilometer jauhnya.
Aku ingin mengabadikan apa yang terlintas di pikiran dan terbersit di hati mereka dalam tulisan- tulisan yang hidup karena memiliki jiwa, bukan yang kaku dan kering. Aku ingin tulisan-tulisanku singkat, padat, sarat makna, dan mengalir alami, bukan bertele-tele dan menjemukan. Aku ingin perasaan orang-orang itu hidup dalam tulisanku, dan, dengan segenap kemampuanku, ingin kutunjukkan pada dunia, bahwa hidup itu indah dan penuh warna.
Izinkan Aku Mengikhlaskanmu di Dunia dan Akhirat

Aku tak tahu kenapa baru sekarang takdir membawaku ke kotamu, setelah empat tahun sejak kau minta diriku untuk datang.
“Kapan-kapan ke sini lah.” pintamu saat itu lewat telepon.
“Ngapain?”
“Ya maen ke tempatku, ketemu aku.”
“Ya, kalo ada kesempatan ya.” jawabku diplomatis.
Saat itu kita masih sama-sama muda dan masih sering saling menelepon dan berkirim pesan singkat. Namun dalam empat tahun, ada banyak hal yang berubah. Termasuk kebiasaan kita yang dulu. Bisa jadi, perubahan kebiasaan ini karena perubahan hati. Meski aku tak pernah benar-benar tahu isi hatimu.
Aku tak mau salah sangka setiap kali kau mengirimkan pesan singkat padaku, atau memintaku untuk meneleponmu. Aku tak ingin salah menafsirkan telepon-teleponmu setelah kau terjatuh dari motor, atau saat kau akan menghadapi ujian dan meminta motivasi dariku, atau saat kau bercerita tentang pria-pria yang mendekatimu. Aku suka mendengar cerita-ceritamu dan suaramu. Aku berikan semua yang kaupinta, pendengaranku, waktuku, dan perhatianku, kecuali satu yang belum bisa kupenuhi: datang ke kotamu. Kita pun membiarkannya mengalir begitu saja dan menikmati keindahan alirannya.
Kita memang sempat terpisah jarak tujuh jam perjalanan namun kita sama-sama tahu hati kita pernah begitu dekat. Tujuh jam bukan jarak yang singkat untuk kutempuh, terlebih dengan kesibukanku di kotaku. Kuliah dan kegiatan lain kadang membuat orang-orang di kosku geleng-geleng kepala,”Kamu tu, berangkat pagi pulang malam, tiap hari begitu, sebenarnya ngurusi apa to?” Maka, aku perlu meminta maaf jika kedekatan hati kita tak bisa kuturutkan dengan kedekatan raga.
Sekarang, saat raga kita bisa sangat dekat, kita sama-sama tahu, hati kita tak sedekat dulu. Empat tahun telah membawa warna dan sosok-sosok baru dalam kehidupan kita, dan aku pun perlahan menarik diri dari kehidupanmu, terlebih saat ku sadar, jalan yang akan kita tempuh tak semulus yang kita harapkan.
“Aku ingin menikah dengan orang yang dekat rumah saja” katamu suatu saat.
“Kalo rumahnya di kotaku, dekat ga?”
“Ya jauh, paling ga, dia tinggal di kotaku.”
Saat itu, aku masih butuh satu tahun untuk merampungkan pendidikanku dan mungkin beberapa tahun sebelum memberanikan diri datang ke rumahmu. Kita pun mulai jarang berhubungan, sama-sama disibukkan dengan dunia masing-masing, mungkin. Dan hati yang dulu begity dekat, perlahan menjauh, dan dipertemukan dengan hati yang lain. Kau dipertemukan dengannya, pria yang tinggal sekota denganmu, dan aku dipertemukan dengan gadis-gadis lain, namun kau perlu tahu, tak ada yang sepertimu. Mungkin ia bisa menggantikanku di hatimu, namun mereka tak bisa menggantikanmu di hatiku.
Aku tak tahu kenapa takdir sering mempertemukan kita di kotamu. Di bank, di rumah makan, di pasar malam, dan di tempat-tempat lain. Aku sendiri dan kadang bersama teman-teman kantorku, dan kau selalu bersamanya, pria yang kini dekat dengan hatimu itu. Kita pun bertegur sapa, dan aku pun berkenalan dengannya, mengobrol dengannya. Namun kita sama-sama tahu, ada getaran dalam hati kita. Ada yang bisa kutangkap dari sorot matamu, dan aku yakin kau bisa memahami perasaanku lewat sorot mataku.
Kalian katakan padaku rencana pernikahan kalian beberapa bulan lagi. Aku bisa melihat betapa bahagianya dia saat mengatakan itu dan ku katakan aku turut bahagia mendengarnya, namun apa yang sebenarnya kurasakan dalam hati, semoga tidak merusak hubunganmu dengannya. Aku tak ingin masa lalu kita menjadi perusak kesetiaanmu padanya. Bagaimanapun juga, dia yang akan menghiburmu saat kau bersedih, menghapus airmatamu saat kau menangis, mengangkatmu saat kau jatuh, mengingatkanmu saat kau salah melangkah, dan mendampingimu menjalani hidup.
Kau gadis yang sangat baik, dan beruntunglah ia yang sebentar lagi menyandingmu.
Tentu kau masih ingat,”Wanita sejati tidak dilihat dari seberapa banyak pria yang mengejarnya, tapi dari kesetiaannya pada pria yang mendampinginya.” Aku ingin kau menjadi wanita sejati dengan memberikan kesetiaanmu seutuhnya kepadanya serta menjaga hati dan perasaannya, dan aku akan melanjutkan hidupku, tanpamu. Aku akan membuka diri pada hubungan denganmu, namun tidak untuk membuka hati. Aku akan terus memgagumimu, namun tidak akan mencintaimu. Biarlah masa lalu kita menjadi pembelajaran yang dapat kaugunakan untuk memuliakannya, dan ku gunakan untuk memuliakan penggantimu.
Dan sekarang, izinkan aku mengikhlaskanmu, di dunia dan di akhirat.
Young Leaders for Indonesia (YLI) 2012 Application opens now!

Young Leaders for Indonesia (YLI) 2012 Application opens now!
Application period starts from 21 Jan to 29 Feb 2012.
We are opening new application for high performing and students’ leaders to participate in 2012 Program!
We are looking for exceptional 3rd or 4th students with the following attributes:
· Outstanding academic credentials (cumulative GPA should be greater than 3.30/4.00)
· Outstanding leadership skills as evidenced by significant role and contribution in extra-curricular activities
· Excellent interpersonal skills
· Fluency in English (for day-to-day oral and written communication)
· High energy and a clear passion for having impact on a national scale for Indonesia
If you’re interested to apply, please email your CV and essay of your leadership roles and experience (max. 500 words in English) toYLI_VTR@mckinsey.com with subject YLI Kampus Wave 4–Your Name & University before February 29, 2012. Selected applicants will receive invitation to join the program. For application, please download CV template available athttp://www.mckinsey.com/locations/southeastasia/applicationprocess/
Cinta Itu Sambungan Hati
Jam menunjukkan pukul setengah 7 malam ketika saya berdiri di halte TransJogja Condongcatur, Jogja, saat seorang ibu berpakaian sederhana berusia sekitar 50 tahunan akhir mengajak saya berbicara, “Mau kemana, Dek?” Meski sebenarnya saya akan menghadiri pernikahan teman SMA saya, saat itu saya berpikir untuk sekedar percakapan basa-basi mungkin saya hanya perlu menjawab sekenanya, “Mau jalan-jalan saja, Bu. Main ke rumah teman.” Saya tidak sempat menanyakan nama ibu tersebut namun dalam tulisan ini mari kita panggil beliau Ibu Harti (bukan nama sebenarnya).
Percakapan singkat dengan Ibu Harti tersebut berlanjut hingga ke berbagai topik, mulai keluarga Ibu Harti, pergerakan mahasiswa tahun 70an (Ibu Harti pernah menjadi ketua komisariat sebuah organisasi ekstra mahasiswa semasa kuliah dulu dan ikut memperjuangkan Tritura), hingga masalah asmara. Ibu Harti yang bercerita dengan penuh semangat tiba-tiba iseng menggoda saya:
Ibu Harti: “Ini ke Jogja ke rumah teman ato ke rumah pacar?”
Saya: “Wah, temen kok, Bu.” (Dalam hati, “Waduh Bu, sensitif ki, dari dulu saya lom dapet pacaaar. Tolong jangan singgung masalah ituuu! #curcol)
Ibu Harti: “Lho nggak papa, kalo sama saya terbuka aja nggak papa.”
Saya hanya tersenyum. Ibu Harti lalu melanjutkan, “Cinta itu sambungan hati, Dek.” Jleb. Saya terdiam sejenak. Karena takut salah menafsirkan kalimat kiasan tersebut, saya bertanya,”Maksudnya gimana, Bu?” Masih dengan bersemangat, ibu melanjutkan,”Iya, saya dan suami saya terpisah lima tahun. Selama itu kami nggak pernah malam mingguan. Kami jarang ketemu, tapi hati kami selalu nyambung. Mau pisah sejauh apa dan seberapa lama, tapi kalo sudah cinta, pasti akan terus nyambung.” Kalimat itu masuk ke dalam hati saya dan mengendap di dalamnya. Sebenarnya saya ingin merenungkan kalimat bermakna dalam tersebut barang sejenak, namun untuk menghindari suasana awkward, saya timpali penjelasan tersebut.
Saya: “Kalo anak muda sekarang istilahnya LDR, Bu.”
Ibu Harti: “Apa itu?”
Saya: “Long distance relationship. Hubungan jarak jauh.”
Kami pun tertawa bersama.
Tak berapa lama kemudian Ibu Harti pamit karena bus jalur 3B yang ditunggunya datang, sementara saya tetap tinggal di halte, menunggu bus jalur 3A, sambil merenung setelah sempat tertunda. Ya, cinta adalah sambungan hati. Di sini, saya punya dua penafsiran. Pertama sesuai dengan yang disampaikan Ibu Harti. Saat cinta sudah menyambung dua hati, maka seberapa jauh jarak dan seberapa lama waktu yang memisahkan mereka, hati itu akan terus tertaut. Seberapa lama hati itu akan tertaut akan tergantung pada seberapa kuat ikatan itu.
Banyak kita kita dengar jalinan kisah cinta dua insan yang saling berjauhan, tidak hanya berbeda kota namun bahkan berbeda negara dan benua, yang berakhir bahagia karena mereka menjaga kekuatan sambungan hati mereka. Jika sambungan hati sudah begitu kuat, maka vincit amor omnia, cinta mengalahkan segalanya. Aral yang merintang dan badai yang menerjang pun tak akan sanggup memutuskannya. Cinta akan memberi kekuatan untuk dapat bertahan hingga pada akhirnya menemukan jalan untuk kembali bersatu.
Namun , ada juga yang terpaksa berhenti di tengah jalan, karena beragam alasan. Mungkin ada pihak yang memilih untuk tidak menjaga kekuatan sambungan hati mereka, atau memilih untuk menyambungkan hatinya dengan hati yang lain, atau keduanya sama-sama memilih untuk menyudahi perjuangan menjaga sambungan itu, atau alasan-alasan lain.Cinta memang kadang tak berakhir bahagia, dan kadang perpisahanlah yang menjadi jalan keluar terbaik agar kita bahagia.
Penafsiran kedua berangkat dari pemahaman bahwa sambungan hati bermakna kecocokan hati. Kalimat “Aku nyambung banget sama dia” dapat berarti “Aku cocok banget sama dia”. Dalam bahasa gaul modern, kenyambungan atau kecocokan ini sering kita sebut ‘chemistry’. Memang, kenyambungan atau chemistry kuat yang terjadi secara alami dapat menumbuhkan cinta. Ini kita alami saat kita merasa ada kecocokan atau memiliki banyak persamaan dengan seseorang, misal memiliki passion yang sama atau hobi yang sama. Maka, muncullah pasangan-pasangan yang lahir dari chemistry yang kuat dan alami. Namun, ada juga pasangan yang terkadang seperti memaksakan cinta, manakala keduanya sama-sama sadar bahwa antara keduanya ada terlalu banyak perbedaan dan merasa tidak ada kecocokan, namun tetap memilih untuk bersama, dengan beragam alasan. Apapun pilihannya, saya yakin mereka punya pertimbangan sendiri dan lebih tahu mana yang terbaik untuk mereka.
Jam mungkin menunjukkan pukul 7 ketika bus yang saya tunggu datang. Dalam perjalanan ke Monjali, terlintas dalam pikiran saya: saya ke Jogja untuk menghadiri pernikahan teman SMA saya yang mempersunting pujaan hatinya sejak SMA. Sebelum ke acara, saya transit dulu di rumah teman SMA saya yang lain. Keduanya sama-sama memenangkan hati pujaan hati mereka sejak SMA, lima hingga enam tahun yang lalu. Dalam kurun waktu tersebut, mereka sama-sama menjaga kekuatan sambungan hati mereka, dan alhamdulillah berakhir bahagia. Ah, betapa indahnya cinta SMA yang bertahan hingga ke jenjang pernikahan. Betapa indahnya memiliki hati yang tersambung kuat dengan sang pujaan hati, hingga keduanya dapat benar-benar saling memiliki.
Bu Harti, terima kasih banyak atas percakapan singkat yang membekas di hati. Terima kasih pula atas pelajaran hidup yang sangat bijak dan bermakna. Semoga Tuhan menjaga kekuatan sambungan hati Ibu sekeluarga hingga akhir nanti.
Sayaka-san, Andai Pegawai Publik di Negeri Kami Seramah Dirimu

Akhir November 2010, kami, 4 mahasiswa dan 3 dosen dari UNDIP, menginjakkan kaki di Bandara Internasional Kanzai, Osaka, Jepang. Pengalaman pertama kali menginjakkan kaki di Jepang tentunya membuncahkan perasaan bahagia, namun saat itu kebahagiaan kami sedikit terusik karena barang-barang kami terbawa oleh pesawat yang berbeda ke Bandara Narita. Cerita tentang bagaimana kami dengan tujuan Nagoya bisa diterbangkan ke Osaka sementara barang-barang kami diterbangkan ke Narita bisa sangat panjang. Barang bawaan yang terbawa ke Narita, menjadi awal cerita saya.
Saat itu, setelah selesai dengan pengecekan paspor dan pengisian berkas-berkasi imigrasi, kami melaporkan kepada petugas bandara apa yang kami alami. Dalam hitungan menit, datang seorang mbak-mbak petugas yang cantik dan muda usia. Sebut saja namanya Sayaka (kami tidak sempat menanyakan namanya).
Sayaka-san saat itu memperkenalkan diri (namun kami tidak sempat mendengar namanya) dan mengatakan akan membantu mengurus barang-barang kami. Kami hanya menurut saja saat ia membawa kami memasuki lorong-lorong panjang ke menuju tempat pengurusan baggage yang bermasalah. Di sana, ternyata ada beberapa orang dari Indonesia juga yang mengalami masalah serupa.
Bersama seorang petugas bandara lainnya, Sayaka-san meminta kami mengisi sebuah form untuk mengidentifikasi ciri-ciri baggage kami. Dengan sabar, ia menjelaskan bagian-bagian yang harus diisi. Pada saya yang tak mengerti Bahasa Jepang sama sekali, Sayaka-san tak kehilangan kesabaran. Ia tetap menjelaskan dengan ramah, dan tetap dengan wajah yang penuh senyum.
Keramahan Sayaka-san semakin terasa saat ada sebagian dari kami yang tidak membawa pulpen. Dengan ramah, ia berikan pulpen yang ia pinjam dari rekannya sesama petugas bandara. Ia bimbing kami mengisi form hingga selesai dan saat semua form sudah diisi, ia pastikan semuanya akan baik-baik saja. Ia katakan bahwa barang-barang kami akan tiba di Nagoya paling lama tiga hari ( sebenarnya bisa lebih cepat namun karena ada hari libur, prosesnya menjadi sedikit lebih lama).
Kami berpisah dengan Sayaka-san setelah bersiap-siap melanjutkan perjalanan bersama Profesor Terada yang menjemput kami di bandara. Ia antar kami hingga ke jalan keluar. Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Sayaka. Saat perlahan kami melangkah, kami lambaikan tangan kepadanya yang juga melambaikan tangannya pada kami. Sayaka-san terus melambaikan tangan hingga kami keluar dari pintu bandara.
Keramahan Sayaka-san benar-benar membekas di hati kami. Sambil berjalan ke stasiun kereta terdekat, kami pun berandai-andai, andai petugas bandara dan pegawai publik di negeri kami yang mengaku ramah ini sehumanis Sayaka-san.
Jika anda ingin abadi, menulislah!

Ada masa-masa dimana saya keranjingan menulis lagi menulis. Saat itu rasa-rasanya produktivitas menulis saya berada dalam tingkat yang cukup tinggi. Sensasi yang saya rasakan tatkala menulis dan membaca karya saya beberapa hari kemudian pun menjadi semacam ekstasi yang memabukkan, hingga saya terkadang saya lupa masih ada kewajiban-kewajiban lain yang harus saya lakukan.
Adakalanya saat saya sedang mabuk menulis, tugas-tugas kuliah saya terbengkalai, hingga kadang saya kurangi porsi belajar saya untuk ujian akhir semester. Bagi saya, tidak masalah. Toh saya tidak pernah menulis tentang curahan hati saya. Saya menulis dengan berpegang pada prinsip “dulce et utile”. Saya ingin tulisan saya “manis dan berguna”, dengan berpatok pada kekuatan pesan dan keindahan susunan serta pilihan kata, meski saya akui ada beberapa tulisan saya yang mungkin kurang memenuhi kriteria tersebut.
Saat saya sedang mabuk menulis seperti sekarang, ada pikiran kecil yang melintas di kepala saya, jika fotografer mengabadikan momen dengan menulis, maka saya akan membuat sesuatu abadai dengan menulis, sebagaimana kata pepatah Yunani verba volant, scripta manent: apa yang dikatakan akan hilang, apa yang ditulis akan abadi.
Saya pun mencoba untuk mengabadikan banyak hal: perjalanan hidup, kejadian unik, atau ide kecil yang terlintas di pikiran dan perasaan yang terlintas di hati. Saya jadikan hal tersebut prasasti di note Facebook atau di blog saya. Untuk hal yang bersifat sangat pribadi, saya tuliskan dalam note dan saya simpan di laptop saya.
Sering setelah lama waktu berlalu, membaca kembali tulisan-tulisan tersebut seperti membuka lembaran-lembaran lama yang menghadirkan sensasi yang beragam. Ketika saya membaca prasasti ide, maka saya akan merasa seperti berkaca, melihat kembali diri saya beberapa waktu yang lalu dan sering menyadari betapa hidup telah membuat saya berubah. Sementara prasasti kejadian membawa saya ke masa lalu, menghadirkan lagi kenangan-kenangan lama dan membangkitkan lagi rasa-rasa yang sempat terkubur dalam hati dan terpendam dalam pikiran. Ekstasi ini salah satu yang mendorong saya untuk terus menulis, mencipta prasasti.
Ya, prasasti itu abadi dan mengabadikan. Saya pun yakin, tulisan-tulisan kita akan abadi dan mengabadikan pikiran, gagasan, perasaan, dan kejadian yang kita-kita tuangkan di dalamnya. Maka, jika anda ingin abadi, menulislah!
Bahasa Cinta yang Menembus Batas

Salah satu kegiatan dalam program kunjungan budaya ke Jepang yang saya ikuti adalah home stay atau tinggal bersama keluarga Jepang. Saya pernah mengikuti program home stay pada pertukaran pemuda sebelumnya, namun kali ini saya agak merasa khawatir. Jika home stay sebelumnya di Amerika dan Kanada, saya menguasai bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan keluarga asuh saya, kali ini saya benar-benar tidak menguasai Bahasa Jepang. Saya pun selalu bertanya pada diri saya, “Bagaimana cara berinteraksi dengan keluarga angkat di Jepang nanti?”
Di Jepang, saya ditempatkan di keluarga Yamamura. Di rumah, ada okaasan (ibu), dan tiga anak-anaknya yang lucu dan imut:si sulung Ryosuke yang berumur 9 tahun, kedua Haruto 8 tahun, dan si kecil Keina 4 tahun. Pertemuan saya dengan mereka terjadi ketika host fam saya menjemput saya di Universitas Nagoya pada suatu sore di tengah rintik hujan musim gugur yang dingin. Dua jam perjalanan dari Nagoya ke rumah keluarga saya di Ichinomiya, kami mengobrol tentang banyak hal dengan bahasa yang terbatas. Beruntung saat itu ada Bikke, seorang teman okaasan yang bahasa Inggrisnya cukup fasih. Dalam segala keterbatasan, kami mengobrol tentang keluarga, tentang budaya Jepang dan Indonesia, dan saya mendapatkan banyak hal yang bisa menyatukan kami, misal Nagoya Grampus Eight, sebuah klub sepakbola juara J-League musim 2010.
Selama di Ichinomiya, kegiatan-kegiatan saya dengan host fam bervariasi, mulai dari bermain video games bersama Ryosuke dan Haruto hingga jalan-jalan ke Ichinomiya Park. Saat bermain video games, berhubung Ryosuke dan Haruto tidak bisa berbahasa Inggris dan saya tidak bisa berbahasa Jepang, praktis semua intruksi diberikan dengan bahasa isyarat. Bahasa isyarat pula yang kami gunakan keesokan harinya saat bermain petak umpet dengan mereka di Ichinomiya Park, sebuah taman bermain keluarga.
Dua hari setelah tinggal bersama keluarga Yamamura, saya kembali ke Universitas Nagoya dan selanjutnya tinggal di hotel. Di kamar hotel, saya merenung. Kekhawatiran yang saya tanyakan pada diri saya ternyata tidak terjadi! Saya dan keluarga asuh saya benar-benar dapat berkomunikasi dan menjalin hubungan yang sangat harmonis layaknya keluarga dalam arti yang sebenarnya. Saya pun mulai menyadari, bahwa meski saya tidak dapat berbicara Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris keluarga saya terbatas, kami sama-sama dapat berbicara satu bahasa yang sama: bahasa cinta. Amor vincir omnia, kata pepatah Latin, artinya cinta mengalahkan segalanya. Memang bahasa cinta yang kami gunakan benar-benar dapat mengalahkan hambatan bahasa verbal yang sempat saya khawatirkan. Bahasa itu juga yang mendorong saya untuk menempuh perjalanan Nagoya-Ichinomiya yang cukup jauh untuk memberikan oleh-oleh yang yang belum sempat saya berikan karena bagasi saya terbawa ke Narita, sementara teman-teman rombongan saya melihat-lihat kastil Nagoya. Cinta memang tidak hanya indah, namun juga kuat, cukup kuat untuk menembus batasan bahasa, jarak, dan budaya.
International Love: Indonesia-Korea
Aku masih saja suka memandangi foto-fotomu yang kusimpan di laptopku. Melihat-lihat kembali senyummu, tawamu, keusilan, dan kenakalanmu membuatku seolah merasakan kembali masa-masa saat kita berjalan berdua di Jeju Island, menikmati senja di tepi sungai Hang Gang, atau sekedar duduk-duduk di Namsan Tower. Masa yang indah bukan? Semua terasa seperti baru saja kemarin, padahal aku yakin kita berdua sama-sama sadar, itu terjadi enam bulan yang lalu. Ya meski sudah enam bulan yang lalu, manisnya masih kuat terasa hingga sekarang.
Dan aku masih saja suka mengagumi keindahanmu melalui foto-foto yang kusimpan di laptopku. Keindahan itu yang turut memperindah hidupku selama aku tinggal di negerimu yang telah mencuri hatiku. Keindahan itu yang menggoreskan warna-warna baru dalam hidupku, yang memberi arti mendalam bahwa cinta dapat mengalahkan segalanya, meleburkan segala perbedaan. Keindahan itu yang ingin selalu kurasakan meski kau tak lagi di sisiku.
Aku masih saja suka mengusir kegalauanku dengan memandangi memandangi foto-fotomu yang kusimpan di laptopku. Rasanya seperti saat kau menghiburku ketika aku baru saja larut dalam kesendirian. Senyummu saat itu seperti aliran air sejuk yang meresap ke dalam dadaku. Aku sellau heran, kau selalu punya cara untuk menghiburku, hingga kadang aku berpikir, mungkinkah kau bisa membaca pikiran orang lain, atau paling tidak membaca pikiranku?
Bagiku, mengenal sosok sepertimu adalah suatu keberuntungan. Mungkin saat itu Tuhan ingin mengenalkanku pada salah satu bidadarinya, yang tidak hanya memiliki wajah bak permata, namun juga hati yang seolah terbuat dari emas. Di sisimu, aku merasa menjadi orang paling beruntung dan bahagia. Terlebih setelah kau belajar mengucapkan “saranghae” dalam bahasaku. Saat itu, aku benar-benar merasa kita adalah satu jiwa dalam dua tubuh.
Namun, kadang aku berharap tidak pernah mengenalmu. Kau tak pernah tahu, betapa perih sayatan yang kurasakan saat pesawatku mulai beranjak terbang di bandara Kwandong, untuk selanjutnya menuju ke negeriku. Hari-hari pertamaku tanpamu, serasa ada bagian yang hilang dari hidupku. Aku tak tahu apakah kau merasakan hal yang sama. Andai saja begitu, aku akan sangat meyesal dan bersalah tidak bisa hadir di sisimu, seperti kulakukan setiap ada yang berani menggoreskan luka di hatimu.
Enam bulan telah berlalu setelah jarak memisahkan kita. Mimpi yang pernah kita rajut bersama, semoga suatu saat menjadi nyata, dan cinta yang menaut hati, semoga tak lekang oleh jarak dan waktu.
Saranghaeyo, jagiya.
Bukit Berbunga yang Menyatu dengan Kenangan Indah di Borobudur

Kadang, ada lagu-lagu yang mewakili suatu kenangan yang sangat kuat, yang bila kita putar dapat membuat kita merasakan kenangan itu. Dari beberapa lagu yang memiliki kenangan ini, ada satu lagu yang benar-benar menyentuh saya: Bukit Berbunga.
Awal perkenalan dengan lagu ini adalah saat saya menjemput teman-teman relawan VYA Taiwan di Bandara Adi Sutjipto Jogja, yang akan mengikuti work camp IIWC di Borobudur. Saat itu, hari Rabu (13 Juli 2011) sore pukul empat saya berangkat sendirian ke Jogja dengan bus dari terminal Borobudur, meninggalkan Mamun dan Nia, camp leader dan peserta Indonesia, di campsite kami di Borobudur. Berbekal informasi bahwa teman-teman Taiwan akan datang pada pukul 5 sore, saya melakukan perjalanan ke dengan cara yang sama sekali baru, Hal ini sedikit memunculkan perasaan khawatir dan was-was pada diri saya yang bertahan hingga tiba di Jogja.
Saya tiba di Jogja, di terminal Jombor pukul lima kurang. Di Jombor saya berganti bus ke TransJogja menuju bandara. Saat itu, ada satu hal yang ada dalam pikiran saya: jangan sampai teman-teman dari Taiwan menunggu terlalu lama bandara. Saya benar-benar ingin memberikan pelayanan terbaik bagi mereka. Itu berarti, saya harus segera tiba di bandara. Sayangnya saat itu, halte sangat penuh. Dalam penantian menunggu bus, saya teringat bahwa saya belum menanyakan maskapai yang mereka gunakan dari Jakarta ke Jogja. Segera saya kirim sms ke beberapa teman saya. Teman saya pun langsung menelepon saya namun pembicaraan terhenti karena hape saya mati. Di sini perasaan saya semakin bergejolak.
Dalam kondisi hape mati, saya lanjutkan perjalanan ke bandara. Saat itu, tampaknya perjalanan akan memakan waktu jauh lebih lama dari yang saya harapkan. Saya benar-benar khawatir jika teman-teman Taiwan akan menunggu lama di bandara, terlebih mengingat mereka membawa barang bawaan yang lumayan banyak. Dalam kondisi penuh dengan tekanan, di radio bus mengalun lagu seriosa yang sebenarnya pernah saya dengar namun tidak saya perhatikan dengan mendalam. Saya merasa lagu ini cukup menghibur; melodi dan liriknya yang romantis dapat mengusir kegalauan dari diri saya.
Selama work camp, meski tidak pernah mendengarkan lagu ini, saya terus mencoba untuk mengingat-ingat melodinya. Saya baru benar-benar mendapatkan info detail tentang lagu ini seminggu setelah work camp selesai, tepatnya saat saya menyelesaikan laporan di kantor. Lagu ini pun menemani saya menyusun laporan dan bercerita dengan Mamum tentang kenangan-kenangan indah selama work camp, tentang imajinasi-imajinasi liar kami (salah satunya: meluangkan waktu berdua di kala senja dengan ‘adek cantik’ di sebuah bukti di sekitar Borobudur
).
Bagi saya, Bukit Berbunga benar-benar telah menyatu dengan work camp yang saya ikuti di Borobudur. Menikmati alunannya selalu membangkitkan kembali kenangan-kenangan suka dan duka selama work camp. Kenangan itu terasa semakin indah saat ada hal kecil yang terselip yang hanya bisa dirasakan dengan hati.
Video Bukit Berbunga:
Untuk mengunduh MP3 Bukit Berbunga, klik di sini.


















