Monthly Archives: June 2011

Theme Song Iklan Pocari Sweat

Iklan Pocari Sweat baru-baru ini cukup menyita perhatian masyarakat. Perhatian ane juga tersita.  ;)
Mbak-mbak (yang full keliatan kayak orang) Jepangnya plus lagunya yang cukup mantab membuat iklan ini memiliki cita rasa yang berbeda….alah…Anyway, mbak-mbak bintang iklannya bernama Aelke Mariska (Twitter @Aelke_mariska), and lagunya berjudul Youth Sweat Beautiful by Ryutaro Makino dan lokasi syutingnya di Cape Town, Afrika Selatan.

Here’s the lyrics of the song:

Hateshinai ao no mukou e

Bokutachiro mirai wa hiro garu,

Beautiful day

Kimi to boku ga koko ni iru

Hashi tabun dake michi wa no miru kara …

Day by day

Ima wo iki yo..

 

Download:

Youth Sweat Beautiful

Youth Sweat Beautiful

Foto diambil dari profil Aelke Mariska di Facebook.

Mana yang Lebih Baik: Mengeluh, Menerima Apa Adanya, atau Menciptakan Perubahan?

Di sebuah diskusi di group FB tentang salah satu tantangan yang dihadapi mahasiswa di kampus saya, saya mendapatkan sebuah fenomena menarik yang menggelitik tentang bagaimana mahasiswa merespon tantangan yang ada di depannya. Tantangan tersebut adalah seputar harga makanan di kantin yang dianggap terlalu mahal oleh sebagian mahasiswa. Beberapa orang merespon dengan memberikan solusi, ada yang menerima apa adanya (take it for granted), dan sebagainya. Komentar-komentar tersebut menarik bagi saya mengingat ini mencerminkan pikiran yang memberi komentar, sebagaimana dikatakan oleh Goethe,”If you wish to know the mind of a man, listen to his words.”

Secara umum, komentar-komentar yang disampaikan terbagi menjadi dua: yang menginginkan perubahan, dan yang menerima apa adanya. Yang pertama adalah perwujudan dari kata-kata Maya Angelou, “If you don’t like something, change it. If you can’t change it, change your attitude. Don’t complain.” sementara yang kedua adalah perwujudan dari pakem,”Ya kalo mang gitu mau gimana lagi?” Menurut anda, mana yang lebih baik?

Ada sebuah cara penyikapan positif dalam menghadapi berbagai tantangan, yang terangkum dalam untaian doa (saya tidak tahu siapa penutur aslinya karena ada berbagai versi),”Tuhan, beri saya keikhlasan untuk menerima apa yang tidak bisa saya ubah, keberanian untuk merubah apa yang bisa saya ubah, dan kebijaksanaan dalam memahami perbedaan.” Ya, sebagaimana Maya Angelou ajarkan, jika kita tidak suka dan tidak puas dengan apa yang terjadi, ciptakan perubahan. Namun jika kita tidak bisa merubahnya, mungkin karena di luar kapasitas kita atau mungkin memang di luar kendali kita, mari kita ubah sikap kita, dengan menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada dan tidak mengeluh. Paling tidak, harus ada action yang diambil, jangan hanya mengeluh, bukankah mengeluh saja tidak akan menyelesaikan persoalan?

Jadi, jika tidak puas dan tidak suka dengan sesuatu (dalam berbagai konteks, tidak hanya dalam konteks kantin kampus saya), ingat quote Maya Angelou,

If you don’t like something, change it. If you can’t change it, change your attitude. Don’t complain.”

dan doa,

“Tuhan, beri saya keikhlasan untuk menerima apa yang tidak bisa saya ubah, keberanian untuk merubah apa yang bisa saya ubah, dan kebijaksanaan dalam memahami perbedaan.”

Salam perubahan! :)

When I Pursue a Different Dream

I was born to a couple of parents whose profession is civil servant. Being a civil servant in a country side has really given them a quite high social status as well as respect from the local community. I often observed how my neighborhood would treat them with high respect and often regard them as the source of knowledge, director of change, and decision maker for the village, a quite powerful position.

Having enjoyed such a position, my parents seem to direct me and my sisters to take their path, to be civil servants just like them. We often had a discussion about my sisters’ and my future and often they implicitly brought up the idea of taking part in civil servant formation, something I myself have a doubt of following. Personally, I see no problem with being civil servant, but there’s something else that attracts me and captivates my heart.

If I take my parents’ idea, after graduation I will go home to hometown then prepare myself for regional civil servant selection. If I get selected, then I will start my new status as a young civil servant, going to office in the morning and going home in the afternoon, then marry a local girl (whose profession is perhaps the same as mine), have a happy family, yet live in the small town and face the consequence of experiencing slow vertical mobility. My role in the society will be highly likely the same as my parents’. Quite interesting, but I would say, quite simple as well. Perhaps, a lot of youth in my area pursue this dream, but I don’t share the same dream.

I have tried hard to my best to develop myself to catch up with the fast moving world, getting familiar with such global issues as hunger and poverty, climate change, international conflict, and gender equity. I also tried to find experience through such activities as participating in Model United Nations, organizing local and national seminars, leading organizations, being a camp leader in an international NGO, and participating in international student exchange program. For months I have deliberated over my choice and came to a conclusion that I will not be able to fully develop myself if I choose to take a road in a rural area and living a small, simple dream. I have a bigger dream and a higher aspiration for this nation and the world, and therefore have to find a right habitat to live and make them come true.

This is something that I hope my parents would understand that their son has different passion, pursues a different dream, and has developed himself in a road different from they think right; that the form of happiness I imagine may be different from what they expect me to have. I love how an author put it,”People take different road seeking fulfilment and happiness. Just because they are not on your road doesn’t mean that they get lost.” Yes, don’t worry, Mom and Dad. Even if the road I take may not look right in your opinion, it leads to happiness too, a form of happiness that fits with my passion. And trust me, your happiness takes precedence over anything in my life, even though I may not agree with everything you say.

Your Children are not Your Children

They are the sons and daughters of life’s longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.

You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams.

You may strive to be like them, but seek not to make them like you. For life goes not backward nor tarries with yesterday. 

-Kahlil Gibran-

 

Seputar Perjalanan Semarang-Solo-Sragen: Pilihan Bus, Kecepatan, Waktu Tempuh, dan Biaya.

Semarang-Solo-Sragen

  • Semarang-Solo: Convenience over economic reason

Saya biasanya naik bus dari halte dekat ADA Sukun. Di sini, saya akan mendapatkan berbagai macam pilihan bus menuju Solo, dari mulai kelas AC seperti Safari hijau, Rajawali, dan Shantika, atau ekonomi seperti Raya Indah dan Safari. Saya pribadi lebih memilih AC karena beberapa pertimbangan, di antaranya kenyamanan, kecepatan, dan keamanan. Jika timing saya tepat, akan saya usahakan untuk naik bus Shantika berwarna ungu. Secara kenyamanan, Shantika ungu sama seperti bus-bus AC lainnya seperti Rajawali, Safari, Taruna, dan Shantika dengan warna cat lain. Yang membedakan adalah kecepatan dan cara menyetir sopirnya. Berdasarkan pengamatan saya beberapa kali naik berbagai macam bus AC Solo-Semarang, Shantika ungu membutuhkan waktu tempuh ke Solo yang relatif lebih singkat daripada bus-bus lainnya. Untuk faktor sopir, saya akui, sopir Shantika ungu benar-benar dahsyat, hingga kadang saya berpikir mungkin dia pernah aktif di SK.

*Bus Patas AC=Rp 20.000,00; waktu tempuh: 3 jam

  • Solo Sragen: the faster the better

Di Terminal Tirtonadi Solo, saya akan oper bus ke Sragen. Untuk rute ini, saya lebih memilih bus jurusan Surabaya seperti SK dan Mira yang saat banyak mengoperasikan bus ber-AC dengan tarif ekonomi, atau dikenal dengan ATB (AC Tarip Biasa), daripada bus jurusan Sragen-Solo. Pertimbangannya berkisar pada kecepatan dan kenyamanan. Ya, bus-bus jurusan Surabaya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk tiba di Sragen karena tidak menaikkan penumpang di jalur Solo-Sragen sementara bus jurusan Sragen-Solo membutuhkan waktu lebih lama karena sering berhenti menaikkan penumpang dan juga ngetem di beberapa titik. Kenyamanan naik bus ber-AC dengan tarif ekonomi juga menjadi faktor utama saya lebih memilih bus ber-AC yang dingin dan suejuk daripada bus non-AC yang puanas.

*Bus Jogja-Surabaya (SK & Mira)= Solo-Sragen Kota: Rp. 3.500,00
Bus Jogja-Surabaya (SK & Mira) =Solo-Pom Bensin Tunjungan (saya biasanya turun di sini)=Rp. 4.500,00/Rp. 5.000,00 (Saya biasanya ngasih lima ribu. Kadang dikasih kembalian 500 kadang tidak) waktu tempuh: 1 jam
*Bus Solo-Sragen= N/A

Sragen-Solo-Semarang: the speed of SK

  • Sragen-Solo: waiting for the right one

Biasanya saya mencocokkan keberangkatan saya dengan jadwal bus SK Semarangan lewat di Pom Bensin Tunjungan dengan harapan dapat naik bus tersebut hingga ke Semarang. Jika kebetulan tidak rezeki saya mendapatkan SK Semarangan, saya akan naik SK atau Mira, turun di Solo untuk selanjutnya oper ke Semarang di Terminal Tirtonadi.

  • Solo-Semarang: the ecstasy of riding a roller coster

Pilihan bus akan tergantung pada waktu kepulangan saya ke Semarang. Jika kebetulan di atas jam 12 siang, saya akan rela menunggu kedatangan SK Semarang. Namun jika di bawah jam 12 siang, apa boleh buat, saya akan naik bus AC Solo-Semarang. Pertanyaannya, kenapa SK? Jawabannya, faktor kecepatan dan biaya. Bus-bus SK Semarangan memang membutuhkan waktu yang lebih singkat daripada bus-bus Semarang biasa.
Pernah suatu saat,bus berangkat pukul 8 malam dari Terminal Solo dan ngetem di Kartasura hingga pukul 8.30. Begitu bus berangkat saya kirimkan pesan pada teman saya untuk menjemput di Patung Kuda UNDIP pukul 11, dengan asumsi perjalanan akan memakan waktu sekitar 2,5 jam. Di jalan, bus seolah menjelma menjadi roller coster dan tiba di Semarang jam 10! Saya juga menikmati cara mengemudi sopir yang dapat memacu adrenalin penumpang dan ini menjadi sensasi tersendiri bagi sebagian pelanggan SK. Untuk biaya, SK jauh lebih murah. Tarif normal Solo-Semarang adalah Rp 13.000,00 dan jika kita membawa kartu langganan tarifnya sebesar Rp 10. 500,00. Cepat dan murah, itu alasan saya memilih SK untuk kembali ke Semarang.

*Sumber Kencono (AC Tarif Biasa)=Rp 13.000 (tarif Kartu Langganan= Rp 10.500,00);
waktu tempuh: 1,5-2 jam)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 607 other followers