Sekali-kali curhat di blog, meski sebenarnya blog ini tidak dibuat untuk menampung keluh kesah Pemilik dalam mengarungii kehidupannya.
Malam sunyi. Lagu dana-dana Maluku Utara melantun di headset. Sembari menunggu balasan sms dari Mbak Fir, kunikmati lagu yang kudapat dari Upik ini. Perlahan muncul ingatan tentang Upik yang sedang membawakan tarian dana-dana di panggung culture show di Roxy Theater Neepawa. Muncul juga ingatan tentang kesan Yuri dan Cynthia terhadap lagu ini. “I like that song.” kata Cynthia saat kami mengobrol tentang culture show.
Beberapa menit kemudian, HP-ku berdering. Ada telepon dari Mbak Fir. Sebelumnya, via sms kutanyakan padanya materi dan objek pembelajaran development studies dan kriteria-kriteria sustainable society, pertanyaan yang mungkin menurut Mbak Fir terdengar random. Saat Mbak Fir menjelaskan jawabannya, aku jadi bingung sendiri, felt like getting lost. Karena Mbak Fir harus menemui seseorang, akhirnya kami membuat kesepakatan untuk melanjutkan pembicaraan via email.
Setelah telepon tertutup, datang sms dari Pipit, peserta PPIA perwakilan Jawa Tengah yang akan berangkat ke Australia bulan Oktober mendatang. Pipit menanyakan beberapa hal seputar persiapan mengikuti program, an exchange-related topic. Demi kelancaran komunikasi, akhirnya disepakati pembicaraan akan dilanjutkan besok di kampus (kebetulan Pipit seniorku di Sastra Inggris Undip).
Selanjutnya datang sms dari Putra, adik kelas di Assalaam, yang mau masuk ke Sastra Inggris Undip. Putra mengalami sedikit masalah dengan pengisian KRSnya. Kukatakan padanya untuk ”tenang ja. Innal ma’al ’usri yusra”
Tak berselang lama setelah kuletakkan HP-ku, datang sebuah sms lagi, tepat saat aku ingin kembali menikmati lagu dana-dana. Kubuka sms itu. Kulihat isi dan pengirimnya (nama, identitas, jenis kelamin, dan gender orang ini sengaja dirahasiakan). Pengirim sms yang terakhir ini dulu pernah penting dan berarti dalam kehidupanku tetapi sekarang sudah tidak penting lagi karena kepentingannya sudah kureduksi hingga ke titik terendah. Menurutku, penting tidaknya seseorang bagi kita hanyalah sebuah state of mind. Untuk itu, aku menge-set state of mind-ku, pertama, untuk membuatnya tidak penting, dan, kedua, menghapusnya dari lembaran-lembaran ingatanku.
Kadang kalau tiba-tiba aku teringat orang ini, cepat-cepat kunyanyikan Sche Ne Vmerla Ukrayiny, lagu kebangsaan Ukraina yang menurutku memiliki warna perpaduan antara melankolis dan herois. Dengan cara sederhana ini aku benar-benar bisa mengalihkan perhatianku dari orang itu. Memang, dalam hidup ada orang-orang yang kehadirannya membawa luka tersendiri pada diri kita. Untuk itu, diperlukan keberanian untuk melepaskan diri dari orang-orang tersebut. Terlepas dari betapa pentingnya orang itu bagiku dulu, aku sudah bulat untuk melepaskan diri darinya.
By the way, setelah sms dari orang ini, berdatangan sms-sms antara lain balasan dari Ketua BEM Sastra, salah satu teman yang menanyakan ’daun muda’ di Sastra, , dan sms ucapan selamat malam dari seorang teman lama. Dua yang sms terakhir sedikit bisa meramaikan malam yang semakin larut dan terasa semakin sunyi ini.
Kamar kost, 28 Agustus 2008


