CAM’s AWARD II 2008

June 21, 2008

CAM Solutions menyambut keberpihakan pemerintah kepada pengembangan industri kreatif di Indonesia. Keberpihakan tersebut merupakan upaya bersama untuk pengembangan masyarakat menuju kemandirian budaya, kemandirian teknologi dan kemandirian ekonomi.

Sejalan dengan keberpihakan pemerintah tentang pengembangan ekonomi kreatif, perlu digarisbawahi usaha penguatan akar budaya serta kemasannya dalam upaya pembentukan karakter bangsa. Hal tersebut harus dilakukan semua pihak secara sinergi.

Untuk itu CAM’s menyelenggarakan CAM’s AWARD II 2008 dengan tema:

yang merupakan ajang Lomba Cipta Animasi dan Komik dalam bentuk Iklan Layanan Masyarakat tentang Pembentukan Karakter Bangsa dengan topik lomba:

  • BUDAYA ANTI KORUPSI (waktu, uang, dan fasilitas).
  • BUDAYA SADAR LINGKUNGAN (hutan, laut, sungai, udara, tanah, dan perlindungan satwa),
  • BUDAYA MENGHARGAI ORANG LAIN/SANTUN (berkompetisi sehat, dalam lingkungan sekolah, kantor, tetangga, jalan raya)

Kami yakin bahwa masalah pembentukan karakter bangsa- yang terwakili dengan topik ANTI KORUPSI, SADAR LINGKUNGAN dan MENGHARGAI ORANG LAIN/SANTUN – adalah tanggungjawab kita bersama sehingga perlu adanya gerakan kampanye nasional yang akan menjadi perhatian semua pihak, dan adalah juga merupakan satu bentuk ’memperkuat, mempertahankankan dan mengamankan’ eksistensi ’bangsa’ Indonesia.

”Ketidakberesan dan kejahatan akan tumbuh subur bila orang baik tidak berbuat apa-apa.”
Edmund Burke

Tujuan umum

Lomba ini bertujuan untuk mendorong kreativitas animator dan komikus serta mengorbitkan karya anak bangsa sebagai aset pembentukan karakter bangsa.

Tujuan khusus

  • Mengoptimalkan iklan layanan masyarakat dalam rangka pembentukan karakter bangsa melalui animasi dan komik;
  • Memfasilitasi kreator dalam mengemas ide kreatif membangun bangsa secara efektif dan efisien;
  • Mengorbitkan karya anak bangsa menggunakan berbagai karakter melalui media di Indonesia dalam rangka mendukung pertumbuhan industri kreatif;
  • Meningkatkan kecintaan masyarakat pada budaya kreatif melalui pembentukan pola hidup yang menghargai kreativitas anak bangsa

informasi lebih lanjut dapat dibaca di http://www.cams.co.id/camsaward/


Lomba Bisnis Plan Pemuda 2008

June 21, 2008

Apakah kamu punya ide-ide keren bisnis yang orisinal?
Jika jawabannya YA, maka ikutilah Lomba
Bisnis Plan Pemuda 2008 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, dengan total hadiah lebih dari 45 juta rupiah!

Lomba Bisnis Plan Pemuda 2008 adalah kegiatan yang diselenggarakan untuk kedua kalinya oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia

Di dalam kegiatan ini, diharapkan mampu menjaring gagasan-gagasan bisnis yang inovatif, layak dan mampu diterapkan ke dalam sebuah bisnis riil, dan sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat dan lingkungannya.

Informasi lebih lanjut baca di http://lombabisnisplan.com/

Sekretariat Lomba Bisnis Plan Pemuda 2008
Asisten Deputi Kader Kewirausahaan Pemuda
Deputi Bidang Kewirausahaan Pemuda dan Industri Olahraga
Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga
Gedung Graha Pemuda Lantai 7
Jl. Gerbang Pemuda 3, Senayan Jakarta Pusat
Telp : 021- 5738592
Fax : 021- 5738592
Email :
emailAdd=(‘lombabisnisplan@’+'gmail.com’) document.write(‘<a href=”mailto:’ + emailAdd + ‘”>’ + emailAdd + ‘</a><br />’) lombabisnisplan@gmail.com
CP : 0817 657 9630 attn Jaka
0818 601 457 attn Poetri


INDONESIA CREATIVE IDOL

June 21, 2008

INDONESIA CREATIVE IDOL
adalah suatu program/kegiatan yang diselenggarakan untuk mengangkat dan mengembangkan industri kreatif masyarakat dengan mengaitkan budaya dan industri di daerah dan nasional dengan memanfaatkan sumber daya lokal untuk menciptakan peluang bisnis bagi pemain (produsen), distribusi dan pasar nasional.

TUJUAN UMUM:

  1. Melestarikan, menghargai dan mengembangkan budaya daerah
  2. Mengoptimalkan budaya dalam mendukung kreativitas masyarakat
  3. Mensinergikan masyarakat, pelaku, penikmat, pengguna, pendukung dan pemerintah dalam menumbuhkan dan mengembangkan budaya dan kreativitas bangsa.
  4. Membentuk kemandirian budaya dan kemandirian teknologi serta kemandirian ekonomi masyarakat

TUJUAN KHUSUS :

  1. Menciptakan masyarakat kreatif di bidang konten digital, pertunjukan dan produk dengan memanfaatkan kekayaan alam dan budaya Indonesia.
  2. Menciptakan peluang masyarakat mandiri melalui kreativitas.
  3. Menemukan, membentuk wadah dan mengangkat pelaku industri kreatif
  4. Membangun perekonomian daerah melalui industri kreatif.

VISI
Melaksanakan Pekerjaan Rumah (PR) Bangsa Indonesia dengan mengangkat dan mengoptimalkan Industri Kreatif menjadi Rupiah (Rp.) penghasil Devisa Negara.

MAKSUD
Menciptakan, membangun dan mengembangkan ekonomi kreatif di daerah dan nasional serta menjadikannya sebagai GERAKAN NASIONAL.

KEPESERTAAN
Indonesia Creative Idol 2008 dimaksudkan untuk menjaring bibit kreator pada 9 spektrum yang akan menjadi pendukung dan praktisi/penggiat industri kreatif Indonesia: usia 13 s.d 60 tahun.
Di manapun Anda berada, apabila ingin mengikuti ICI 2008, silakan membuat karya yang mengangkat budaya yang ada di propinsi pada 12 kota yang sudah ditetapkan. Yaitu:Manado, Makassar, Surabaya, medan, Yogyakarta, Padang, Denpasar, Banjarmasin, Balikpapan, Jayapura, Bandung, Jakarta.

Informasi lebih lanjut baca di http://www.cams.co.id/


Kompetisi Video Amatir “Telkomsel Go Green”

June 21, 2008

Merupakan kompetisi video amatir kedua beoscope.com yang diselenggarakan oleh Beoscope.com yang disponsori oleh Telkomsel dan Nokia.

Kompetisi akan berlangsung sejak tanggal 15 Mei hingga 15 Agustus 2008

Telkomsel Go Green dapat diartikan sebagai upaya menuju Indonesia yang
hijau, dengan kondisi lingkungan yang bersih dan sehat serta bebas
polusi.

Video dan animasi yang termasuk dalam kategori “Telkomsel Go Green” adalah video dan animasi yang merekam :

1. Kerusakan dan contoh perusakan lingkungan,
2. Upaya pelestarian lingkungan,
atau
3. Aktifitas dan ide ide yang yang terkait dengan upaya membuat lingkungan sehat
dan bersih.
4. animasi kampanye kesadaran lingkungan dan anti global warming
5. video tentang temuan-temuan praktis yang ramah lingkungan

Durasi video antara 1 – 3 menit.

Setiap orang boleh berpartisipasi dan mengirimkan video untuk
diikutsertakan dalam kompetisi ini. Tidak ada pengkategorian dalam
kompetisi ini. Semua orang dari beragam usia, pekerjaan, gender,
profesi, diundang untuk turut berpartisipasi dalam kompetisi.

Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu video.

Pemenang kompetisi ditentukan oleh pengunjung beoscope.com, dengan
sistem one video one vote. Tiga video yang paling banyak dipilih dinyatakan
sebagai pemenang.

Pemenang Pertama : 1 (satu) kartu perdana & voucher senilai Rp
1.000.000,- dan satu buah ponsel Nokia type : N81 2GB
Pemenang Kedua : 1 (satu) kartu perdana & voucher senilai Rp 700.000,-
dan satu buah ponsel Nokia Type : N81 2GB
Pemenang Ketiga : 1 (satu) kartu perdana dan voucher senilai Rp
500.000,- dan satu buah ponsel Nokia Type : N81 2GB

Tersedia juga 2 (dua) buah ponsel Nokia Type N70 Music Edition untuk
pemilih video yang beruntung.

Video yang menjadi pemenang akan diinformasikan melalui situs
beoscope.com dan pemberitahuan pemenang akan disampaikan melalui email, pada akhir Agustus 2008.


Hari Terakhirku Mengajar: Sebuah Refleksi Kecil tentang Pendidikan

June 9, 2008

Rabu tanggal 28 Mei 2008 adalah hari terakhirku mengajar Peace Education dan les Bahasa Inggris kelas 4 dan 5 di SD dekat rumah. Sehari sebelumnya sudah kupikirkan masak-masak keputusan ini. Alasan utamanya adalah karena adanya kesibukan-kesibukan lain yang membutuhkan waktu, tenaga, pikiran, dan konsentrasiku. Terlepas dari permintaan anak-anak didikku untuk tetap mengajar, keputusanku sudah bulat: hari itu hari terakhirku dan aku tidak akan mengajar lagi.

Sebenarnya agak berat mengatakan keputusan ini pada mereka, terlebih saat teringat betapa antusiasnya mereka mengikuti pelajaran, betapa girangnya mereka saat kuajak menyanyi bersama, dan juga keluhan-keluhan mereka tentang guru-guru mereka. Akhirnya kusadari bahwa kehadiranku bagi mereka tampaknya lebih dari sekedar guru Peace Education dan les Bahasa Inggris, namun juga sebagai tempat berkeluh-kesah, bertanya tentang pelajaran-pelajaran lain, dan saat kubaca surat-surat mereka, aku terhenyak mengetahui arti diriku bagi mereka.

Pada pertemuan sebelumnya memang kuminta mereka menulis kesan dan pesan mereka terhadapku. Formatnya bebas; bisa dalam bentuk surat, essay, atau apa saja dan kusuruh mereka menitipkannya pada adikku yang duduk di kelas 5 SD. Rata-rata mereka menulis dalam bentuk surat dan saat kubaca surat-surat mereka di rumah, aku tercenung. Anak-anak itu memang mengatakan hal-hal positif tentangku dan juga memintaku untuk tetap mengajar, namun satu hal yang tidak kuduga adalah bahwa mereka sudah menganggapku seperti kakak mereka sendiri. Beberapa di antara mereka bahkan meminta untuk diperbolehkan datang berkunjung ke rumah. Ah, ternyata…

Kupikir semua ini adalah buah dari komitmenku sejak awal untuk dapat menyatu dengan mereka dan masuk ke dalam dunia mereka, dunia anak-anak yang penuh canda tawa. Ini sengaja kulakukan utamanya untuk menciptakan suasana pembelajaran yang senang dan santai, jauh dari kesan tegang, agar mereka lebih mudah menerima materi karena menurut penelitian, belajar akan jauh lebih efektif saat dilakukan dalam keadaan senang. Di satu sisi, memang kulihat anak-anak begitu mudah menyerap materi sementara di sisi lain kurasakan ada semacam kedekatan emosional antara aku selaku pengajar dan mereka selaku siswa. Kedekatan emosional yang mempengaruhi efektivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) inilah yang, bila kutangkap dari cerita anak-anak, kurang ada antara mereka dan guru-guru mereka.

Selama ini, kata mereka, kegiatan KBM selalu terkesan terlalu formal dan serius. Hal ini diperparah dengan sikap guru yang sering menolak menjelaskan materi dan langsung menyuruh siswa mengerjakan soal-soal yang materinya belum mereka pahami. Bahkan ada seorang guru yang saat diminta menjelaskan materi, dengan santainya menjawab, “Tanya guru les saja!” Benar-benar sebuah realitas yang patut disayangkan dimana antusiasme, semangat, kekritisan, dan rasa penasaran siswa disambut dengan ketidakpedulian dan sikap acuh tak acuh guru mereka.

Memang banyak yang perlu dibenahi dari sekolah tempatku mengajar, mulai dari pelaksanaan KBM hingga efisiensi penggunaan energi-pernah kudapati dua ruang kelas yang lampunya terus-menerus menyala selama beberapa hari tanpa pernah dimatikan. Aku yakin ini terjadi tidak hanya di sekolah ini, namun juga di tempat-tempat lain, mulai dari jenjang TK hingga perguruan tinggi. Garis besarnya, masih banyak yang harus dibenahi dari pendidikan kita, tidak hanya sistemnya namun juga operasionalnya. Ini adalah PR besar untuk kita semua, atau kalau boleh disempitkan, untuk yang peduli pada pendidikan di Indonesia.