Cerpen Pratama Yoga Nugroho
Malam minggu ini adalah malam keduapuluh lima bagiku. Kali ini bertabur bintang. Mungkin di salah satu bintang itu ada malaikat bersembunyi. Aku masih setia menunggu kemunculannya di teras rumah, meski sudah lima kali ibu menegurku. Dan sekarang sudah jam setengah sebelas. Aku belum mengantuk. Aku masih setia menunggu malaikat.
Sehari sebelum keberangkatannya ke Jakarta, bapak bilang, “Ayam berkokok itu tandanya melihat malaikat. Lha kalau anjing menggonggong dan kuda meringkik itu tandanya melihat setan. Anak kecil seperti kamu, Le, mungkin bisa melihat mereka.” Kata-kata itu kumasukkan dalam kepalaku dan kusimpan sampai sekarang. Aku yakin bisa melihat mereka.
“Malaikat dan setan tidak kelihatan,” kata ibuku suatu kali.
“Lantas siapa gendruwo dan pocongan yang kakek lihat kemarin?”
“Mungkin gendruwo dan pocongan sungguhan.”
“Bukan. Itu setan.”
“Ah, emboh lah.”
Aku sering mendengar pengalaman-pengalaman mistis kakek. Ibuku sering melarangku mendengarkan cerita beliau. Tidak bagus untuk perkembangan mentalmu, katanya, tetapi aku tetap saja asyik menikmatinya.
Memang setan sudah sering dilihat orang, tetapi malaikat tidak. Belum terdengar cerita ada orang melihat malaikat selain para nabi dan rasul atau mungkin aku belum mendengarnya. Jadi suatu saat nanti jika aku melihat malaikat, bisa jadi aku satu-satunya orang yang bisa melihatnya sejak malaikat Izrail turun untuk memutus tali kehidupan Nabi Muhammad.
Aku masih menunggu malaikat sekarang. Siapapun malaikat yang kulihat nanti, tentu akan membuatku girang. Entah Jibril, Mikail, atau bahkan Izrail. O ya, mengapa tidak kulihat Izrail saat nenek meninggal seminggu yang lalu ? Ah, mungkin dia enggan memperlihatkan dirinya.
Aku terus menunggu sampai kantuk menggiringku ke kamar dan membelaiku seperti belaian lembut ibuku.
* * *
Aku tiba-tiba terbangun. Perutku serasa ditusuk-tusuk. Mungkin akibat kebanyakan makan sambal tadi setelah Maghrib. Aku harus segera ke WC di kebun belakang rumah. Tetapi aku tak punya cukup keberanian untuk itu. Akhirnya kuputuskan untuk membangunkan ibuku. Kugoyang-goyang tubuhnya.
“Bu, Bu, antarkan aku berak, Bu!”
Ibuku menggeliat, tetapi tidak bangun, hanya ganti posisi.
“Bu, perutku sakit sekali, Bu!”
Ibuku tidak juga bangun sementara tusukkan di perutku semakin menjadi-jadi.
Tak ada waktu lagi.
Tai-ku harus kuusir secepatnya.
Aku meluncur ke WC. Suara gaduh yang kubuat akibat pintu yang kubanting dan kucing yang tak sengaja kutendang mungkin terdengar sampai rumah tetangga. Terserah. Yang penting aku harus berak. Pokoknya berak.
Aku terus meluncur ke WC di belakang rumah lima belas meter jauhnya. Di sanalah WC kesayanganku berdiri di bawah sinar bulan yang keperakan. Semakin dekat…dekat…
Ngieek…brakkk…
Crottt…crottt…crottt…
Ah, lega.
Kuusir semua tinja di perutku dan kunikmati proses eksodus mereka sambil meringis-ringis. Aku lupa rasa kantukku. Tinjaku terus keluar dan rasa takutku belum datang.
Setelah ritual cebok selesai, ada ketakutan bertiup di hatiku. Aku mulai teringat setan-setan yang diceritakan kakek dan bayangan mereka berkelebat-kelebat di kepalaku. Dalam bayanganku ada kuntilanak menantiku di depan pintu WC, ada pocongan berdiri di depan pintu rumah, ada gendruwo duduk di mulut sumur, ada tuyul mengendap-ngendap di tembok.
Jantungku berdegup kencang sekali dan terus kupegangi agar tidak copot. Aku diliputi ketakutan yang luar biasa. Belum pernah kurasakan rasa takut seperti ini. Dalam keremangan lampu lima belas watt kupakai celanaku.
Aku tak tahu harus berbuat apa; menunggu di WC sampai terdengar adzan subuh atau mungkin sampai ibu datang untuk buang air juga, atau keluar dengan menghadapi segala resiko yang mungkin terjadi. Aku terus berpikir keras. Harus ada pilihan yang kuambil. Keluar, tidak, keluar, tidak, keluar! Aku harus keluar. Aku tak akan peduli dengan setan-setan yang tiba-tiba muncul atau mungkin sudah menungguku di luar WC. Toh mereka tak mungkin membunuh lantas memakanku. Mereka hanya iseng, ingin dilihat. Ah, mengapa tidak muncul di siang hari saja.
Aku mengambil ancang-ancang. Kubuka pintu WC lalu aku meluncur ke pintu rumah. Cepat sekali. Tidak ada hantu, tidak ada setan. Pintu rumah yang terbuka lebar semakin dekat, dekat, ngieeeek…. brakkk…gedebuk…!
Aneh.
Benar-benar aneh.
Pintu rumah tiba-tiba tertutup dan aku menabraknya sangat keras. Aku terjatuh. Aku berusaha bangkit sambil memegangi dahiku yang sakit bukan main. Aku terduduk bersandar pintu, menghadap WC. Aku masih terengah-engah.
Angin malam berhembus meniupkan hawa dingin yang memaksaku menggigil sebentar dan menimbulkan suara pohon bambu yang bergesekan serta menerbangkan daun-daun kering di tanah. Lalu terdengar lolongan anjing. Anjing melolong pertanda mereka melihat setan. Ada anjing melihat setan. Ada setan terlihat anjing. Mungkin setan itu sekarang menuju ke arahku, memberi pelajaran mengapa hanya malaikat yang kunantikan dan menyatakan bahwa dia pantas untuk juga dinantikan bersama dengan bala tentaranya lengkap dengan persenjataan mereka.
Aku terduduk kaku. Aku semakin takut. Aku menunggu ibu. Aku mengharap ibu datang lalu akan kutanyai, “Kemana, Bu?” dan ibu menjawab, “Ke WC.” Tapi ibu tak kunjung datang.
Kukuruyuk… kukuruyuk….
Rasa takutku tiba-tiba hilang. Aku tiba-tiba juga tesenyum kecil. Ada ayam melihat malaikat. Ada malaikat terlihat ayam. Akan datang malaikat. Aku berdiri, akan kusambut malaikat.
Di kaki langit, di samping gunung, kulihat muncul sesosok cahaya luar biasa besar berpendar indah. Lalu ada ratusan sayap bukan main besarnya terkepak, membentang dari ujung barat sampai ujung timur. Aku takjub. Aku tak mampu berkata sapatah pun, mulutku terkunci. Belum pernah kulihat pemandangan seindah dan sehebat ini. Sungguh menakjubkan. Serasa bukan kenyataan.
Perlahan-lahan pintu rumah terbuka dan perlahan-lahan pula aku masuk lalu menutup pintu. Seperti ada yang menggerakkanku. Kemudian aku berjalan ke kamar. Aku masih takjub dan mulutku masih tekunci.
Aku telah melihat malaikat!!!



September 11, 2009 at 10:00 pm
5 tahun yang lalu saat itu kehidupanku dan klgku amat sangat sulit sekali, 2 hari setelah puasa dan iktikaf 40 hari kujalani selesai, malam harinya sekitar jam 3 dini hr, malam itu entah kenapa suasana di kampungku rasanya sunyi sekali, tentram, tenang dan senyap luar biasa. Aku masih merenungi pekerjaan apa yg akan kukerjakan esok hari di ruang tamu rumahku yang sempit, tiba2 pintu rumahku diketuk, terdengar suara yang sangat lembut mengucapkan salam… “assalamualaikum…” …Aku sgt terkejut,dan lahir rasa takut yg amat sangat luar biasa yg blm pernah kualami dlm seumur hidupku. Tamu yg dtg suara dan kharismanya amat sgt luar biasa. Cahaya putih keemasan yang memancar dari tubuhnya menembus dinding rumahku yang terbuat dari papan yg sudah lapuk. Aku tdk berani membuka pintu, spontan aku msk kamar, kutidur kan diriku scr paksa dlm keadaan menggigil ketakutan. Tamu ku yg tdk kuundang tsb tdk mau pergi. Dia bergerak ke samping rmhku yg kecil ke arah kamar dimana aku tidur. Arah kepalaku memang ke dinding. Dari balik dinding kayu rmhku ia meniup ubun-ubunku. Hawa yg sgt sejuk menghujam dari ubun2 ku sampai telapak kaki, tubuhku menggeletar hebat seperti distrum arus listrik ribuat watt, tp tidak ada rasa sakit, malah rasa tentram dan bahagia yg sulit dilukiskan dgn kata2 menjalari tubuhku…Beberapa saat kemudian cahaya putih keemasan seperti lampu blizt dari balik dinding rumahku tsb menghilang…Setelah tumbuh keberanian, aku bangun, aku berwudhu dan shalat 2 rakaat mhn petunjuk pada Allah. Selesai shalat masih disajadah kubuka Qur’an, tanpa sengaja terbuka surat al buruj yg isinya …Allah memfirmankan “bhw setiap jiwa ada yg menjaganya…” sampai hari ini aku tidak tahu pengalaman hidupku ini bisa aku sharingkan dgn siapa…siapakah yg mengunjungiku itu …apakah dia malaikat…bg yg punya pengetahuan ajari sy…tks