Aku Telah Melihat Malaikat

May 27, 2008

Cerpen Pratama Yoga Nugroho

Malam minggu ini adalah malam keduapuluh lima bagiku. Kali ini bertabur bintang. Mungkin di salah satu bintang itu ada malaikat bersembunyi. Aku masih setia menunggu kemunculannya di teras rumah, meski sudah lima kali ibu menegurku. Dan sekarang sudah jam setengah sebelas. Aku belum mengantuk. Aku masih setia menunggu malaikat.

Sehari sebelum keberangkatannya ke Jakarta, bapak bilang, “Ayam berkokok itu tandanya melihat malaikat. Lha kalau anjing menggonggong dan kuda meringkik itu tandanya melihat setan. Anak kecil seperti kamu, Le, mungkin bisa melihat mereka.” Kata-kata itu kumasukkan dalam kepalaku dan kusimpan sampai sekarang. Aku yakin bisa melihat mereka.

“Malaikat dan setan tidak kelihatan,” kata ibuku suatu kali.

“Lantas siapa gendruwo dan pocongan yang kakek lihat kemarin?”

“Mungkin gendruwo dan pocongan sungguhan.”

“Bukan. Itu setan.”

“Ah, emboh lah.”

Aku sering mendengar pengalaman-pengalaman mistis kakek. Ibuku sering melarangku mendengarkan cerita beliau. Tidak bagus untuk perkembangan mentalmu, katanya, tetapi aku tetap saja asyik menikmatinya.

Memang setan sudah sering dilihat orang, tetapi malaikat tidak. Belum terdengar cerita ada orang melihat malaikat selain para nabi dan rasul atau mungkin aku belum mendengarnya. Jadi suatu saat nanti jika aku melihat malaikat, bisa jadi aku satu-satunya orang yang bisa melihatnya sejak malaikat Izrail turun untuk memutus tali kehidupan Nabi Muhammad.

Aku masih menunggu malaikat sekarang. Siapapun malaikat yang kulihat nanti, tentu akan membuatku girang. Entah Jibril, Mikail, atau bahkan Izrail. O ya, mengapa tidak kulihat Izrail saat nenek meninggal seminggu yang lalu ? Ah, mungkin dia enggan memperlihatkan dirinya.

Aku terus menunggu sampai kantuk menggiringku ke kamar dan membelaiku seperti belaian lembut ibuku.

* * *

Aku tiba-tiba terbangun. Perutku serasa ditusuk-tusuk. Mungkin akibat kebanyakan makan sambal tadi setelah Maghrib. Aku harus segera ke WC di kebun belakang rumah. Tetapi aku tak punya cukup keberanian untuk itu. Akhirnya kuputuskan untuk membangunkan ibuku. Kugoyang-goyang tubuhnya.

“Bu, Bu, antarkan aku berak, Bu!”

Ibuku menggeliat, tetapi tidak bangun, hanya ganti posisi.

“Bu, perutku sakit sekali, Bu!”

Ibuku tidak juga bangun sementara tusukkan di perutku semakin menjadi-jadi.

Tak ada waktu lagi.

Tai-ku harus kuusir secepatnya.

Aku meluncur ke WC. Suara gaduh yang kubuat akibat pintu yang kubanting dan kucing yang tak sengaja kutendang mungkin terdengar sampai rumah tetangga. Terserah. Yang penting aku harus berak. Pokoknya berak.

Aku terus meluncur ke WC di belakang rumah lima belas meter jauhnya. Di sanalah WC kesayanganku berdiri di bawah sinar bulan yang keperakan. Semakin dekat…dekat…

Ngieek…brakkk…

Crottt…crottt…crottt…

Ah, lega.

Kuusir semua tinja di perutku dan kunikmati proses eksodus mereka sambil meringis-ringis. Aku lupa rasa kantukku. Tinjaku terus keluar dan rasa takutku belum datang.

Setelah ritual cebok selesai, ada ketakutan bertiup di hatiku. Aku mulai teringat setan-setan yang diceritakan kakek dan bayangan mereka berkelebat-kelebat di kepalaku. Dalam bayanganku ada kuntilanak menantiku di depan pintu WC, ada pocongan berdiri di depan pintu rumah, ada gendruwo duduk di mulut sumur, ada tuyul mengendap-ngendap di tembok.

Jantungku berdegup kencang sekali dan terus kupegangi agar tidak copot. Aku diliputi ketakutan yang luar biasa. Belum pernah kurasakan rasa takut seperti ini. Dalam keremangan lampu lima belas watt kupakai celanaku.

Aku tak tahu harus berbuat apa; menunggu di WC sampai terdengar adzan subuh atau mungkin sampai ibu datang untuk buang air juga, atau keluar dengan menghadapi segala resiko yang mungkin terjadi. Aku terus berpikir keras. Harus ada pilihan yang kuambil. Keluar, tidak, keluar, tidak, keluar! Aku harus keluar. Aku tak akan peduli dengan setan-setan yang tiba-tiba muncul atau mungkin sudah menungguku di luar WC. Toh mereka tak mungkin membunuh lantas memakanku. Mereka hanya iseng, ingin dilihat. Ah, mengapa tidak muncul di siang hari saja.

Aku mengambil ancang-ancang. Kubuka pintu WC lalu aku meluncur ke pintu rumah. Cepat sekali. Tidak ada hantu, tidak ada setan. Pintu rumah yang terbuka lebar semakin dekat, dekat, ngieeeek…. brakkk…gedebuk…!

Aneh.

Benar-benar aneh.

Pintu rumah tiba-tiba tertutup dan aku menabraknya sangat keras. Aku terjatuh. Aku berusaha bangkit sambil memegangi dahiku yang sakit bukan main. Aku terduduk bersandar pintu, menghadap WC. Aku masih terengah-engah.

Angin malam berhembus meniupkan hawa dingin yang memaksaku menggigil sebentar dan menimbulkan suara pohon bambu yang bergesekan serta menerbangkan daun-daun kering di tanah. Lalu terdengar lolongan anjing. Anjing melolong pertanda mereka melihat setan. Ada anjing melihat setan. Ada setan terlihat anjing. Mungkin setan itu sekarang menuju ke arahku, memberi pelajaran mengapa hanya malaikat yang kunantikan dan menyatakan bahwa dia pantas untuk juga dinantikan bersama dengan bala tentaranya lengkap dengan persenjataan mereka.

Aku terduduk kaku. Aku semakin takut. Aku menunggu ibu. Aku mengharap ibu datang lalu akan kutanyai, “Kemana, Bu?” dan ibu menjawab, “Ke WC.” Tapi ibu tak kunjung datang.

Kukuruyuk… kukuruyuk….

Rasa takutku tiba-tiba hilang. Aku tiba-tiba juga tesenyum kecil. Ada ayam melihat malaikat. Ada malaikat terlihat ayam. Akan datang malaikat. Aku berdiri, akan kusambut malaikat.

Di kaki langit, di samping gunung, kulihat muncul sesosok cahaya luar biasa besar berpendar indah. Lalu ada ratusan sayap bukan main besarnya terkepak, membentang dari ujung barat sampai ujung timur. Aku takjub. Aku tak mampu berkata sapatah pun, mulutku terkunci. Belum pernah kulihat pemandangan seindah dan sehebat ini. Sungguh menakjubkan. Serasa bukan kenyataan.

Perlahan-lahan pintu rumah terbuka dan perlahan-lahan pula aku masuk lalu menutup pintu. Seperti ada yang menggerakkanku. Kemudian aku berjalan ke kamar. Aku masih takjub dan mulutku masih tekunci.

Aku telah melihat malaikat!!!


What’s Going On In My Life This Week (May, 20-26)?

May 27, 2008

Well, just like another week before, nothing really special.

And the main points:

Tuesday (20/ 05)

Ø Went to Bayanan, a tourist spot in Sragen that offers hot spa and beauty of the nature. Many people believe that the water of the spa can cure various kinds of illness. Hmm, let’s see if it can cure my illness.

Ø Got a call from Saint-Eustace, Québec, Canada. Discussed teenager’s lifestyle both in Canada and Indonesia

Wednesday (21/ 05)

Ø Watched a soccer game, Indonesian National Team vs FC Bayern Munchen, final result: 1-5 for FC Hollywood.

Ø Taught my English course and Peace Education for 4th and 5th grade students

Thursday (22/ 05)

Ø Became an eyewitness of the glory of Manchester United as they defeated Chelsea in the final stage of the European Champions League 6-5 through penalty shot out. Glory…glory…Man. United!

Ø Went for a evening ride and took some pictures

Friday (23/ 05)

Ø Went for a ride and got a newspaper. It’s been a long time that I don’t read newspaper.

Saturday (24/ 05)

Ø Went to Solo to take my motor license. Dropped by at SGM and Gramedia

Ø Slept over at Grandpa’s house with my sister and my cousins (six of them!)

Sunday (25/ 05)

Ø Called ‘S’, learned a big lesson from the conversation on the phone.

What matters is not the call, but the lesson.

Ø Hosted a family meeting at my house

Ø Got a call from Saint-Eustace, Québec, Canada- a big call

Monday (26/ 05)

Ø Experienced the rise of fuel price. A liter of gas costs Rp. 6.000, 00 now, rising 28, 7% from the previous price, Rp. 4.500, 00.


ICYEP (Indonesia-Canada Youth Exchange Program)

May 24, 2008

What is implied in ICYEP?
ICYEP stands for Indonesia Canada Youth Exchange Program. This program is coordinated by the Ministry of Youth and Sport (Menpora) and Canada World Youth using the concept of learning through experiences. The participants could find vast learning space in the community, either during in Canada or Indonesia. The participants join the program for approximately 8 months comprising two phases based on the program sites, which are Indonesia and Canada.

Who can be the participants?
All Indonesian citizens who qualify and pass the selection process coordinated by the Ministry of Youth and Sport could participate in this program. The whole participants consist of participating youths, project supervisor, and foster families.

Where does the fund come from?
The fund is budgeted from the development account of both countries through Canada World Youth and Ministry of Youth and Sport of Indonesia.

What are the activities during the program?
Each year, the activities during the program are scheduled based on the work plan approved by both countries. Generally, the activities comprise of social work, community development in mostly rural areas, and “on hand” experience giving activities in cross cultural understanding.

Who are involved in the program?
The participating youths, foster families, and project supervisor. The participating youths are Indonesian youths aged between 19-23 years old who have beforehand qualified the forthright selection process in provincial level. The foster families are the families where the participants stay during the program, either in Indonesia or Canada. During the entire program and home stay, each participant will be coupled with a male or female counterpart from the Canadian side. Project supervisor is a program alumna who has qualified the requirement and passed through the selection process as well.

What are the main activities?
Consist of Work Placement and Educational Activity Day. The Work Placement is where we learn professionalism and supervised by a stakeholder in the workplace. Each participant must work in at least one workplace which basically owns the same principle either in Indonesia or Canada which is to learn how a social effort can be bear in its truthful meaning using modern management principles. Educational Activity Day or Village Day is a day in each week during the program where a series of activities and creativities yet packed with logics is held by and for the participants.

What are the advantages obtained by joining the program?
To participate the program is to gain an experience of a lifetime which is meaningful, resourceful, and useful lessons for as long as you live. Within seven months on the program alone, it can much reflect years of learning process on the school benches and yet enriched with dynamic activities and rational thought and sensations. Through the experiences of interacting with different situations and human characters, the participants could avoid themselves from arrogance, antipathy, and misjudgment to the kin as well as to reach back to their roots and cultures they belong. The participants will be able to open and clear their minds as a basic requirement for intellectual and courteous personality. The participants are therefore expected to be the world citizens who continuously contribute to the community with all their strength wherever they are.


Wong Ndeso Tetapi Tidak Ndeso, Wong Kota Tetapi Ndeso

May 16, 2008

Pernah mendengar lagu berjudul Wong Ndeso yang dipopulerkan oleh Thukul Arwana? Lagu tersebut liriknya sebagai berikut:

Puas? Puas?

Yo wis ben wong arep ngomong opo
Yo wis ben aku ini memang wong ndeso
Yo wis ben arep ngomong empat mata
Yo wis ben sing penting ora kalah karo wong kota
You wis ben wong arep ngomong opo

Puas? Puas?

Ndeso, ndeso, tapi ra popo rejekine kutho

Memang tampang aku katrok
Tapi rejekine kota
Tampang nggak jadi ukuran
Kadang wajah kota rejekine ndeso

Pancen aku wong ndeso
Soal cinta aku Romeo
Buanyak cewek sing trisno
Tapi ora tak pikiri tak sobek-sobek masa bodoh

Just kidding, just for laugh

You wis ben wong arep ngomong opo

Dasar wong ndeso, tapi rejekine kutho
No problem, never mind, never mind

Memang tampang aku katrok
Tapi rejekine kota
Tampang dadi ukuran
Kadang wajah kota rejekine ndeso

Pancen aku wong ndeso
Soal cinta aku Romeo
Buanyak cewek sing trisno
Tapi ra tak pikirin tak sobek-sobek masa bodoh

Yo wis ben wong arep ngomong opo
Yo wis ben aku ini memang wong ndeso
Yo wis ben arep ngomong empat mata
Yo wis ben sing penting ora kalah karo wong kota
2x

Beberapa bulan yang lalu lagu ini sempat booming terutama di daerah Jawa Tengah, penikmatnya mulai dari anak SD dan tukang becak hingga mahasiswa dan kalangan profesional, baik orang kota maupun wong ndeso. Yang menarik bagi saya dari lagu ini adalah kejujuran penyanyi, dalam hal ini Thukul Arwana, dalam mengakui dan meng-explore ke-ndeso-annya, atau kenyataan bahwa dia adalah wong ndeso, usahanya dalam meruntuhkan stereotip (breaking down the stereotype) terhadap wong ndeso, dan fenomena sosiolinguistik dalam masyarakat yang terrefleksikan dalam lirik lagunya.

Secara terminologi, kata wong ndeso berarti orang yang tinggal atau berasal dari desa. Dalam konteks interaksi sosial, makna kata “ndeso” meluas menjadi sifat atau karakter yang kampungan, dalam artian jauh dari anggapan kepatutan umum (public decency) sebagai indah atau bagus. Kata “ndeso” mencakup segi fisik, ekonomi, fashion, dan ide. Sering kita dengar di masyarakat kalimat-kalimat seperti “Tampange kok ndeso banget to?”, ”Penampilane kok ndeso ngono?”, “Cara berpikire wong ndeso iki.” Tentu ini merupakan sebuah stigmasi pada orang-orang yang tinggal atau berasal dari desa.

Dalam lagu ini, Thukul juga menyebut kata kota sebagai kata adjektif sekaligus antonim kata ndeso. Di sini, kata “wong ndeso” dibenturkan dengan kata “wong kota”, dan kata “rejekine kota” dibenturkan dengan “rejekine ndeso” hingga kesan yang ada adalah wong kota adalah orang yang tidak kampungan atau memiliki sifat yang berkebalikan dari sifat wong ndeso, dan “rejekine kota” mengandung makna rezeki yang tidak kampungan, dalam artian melimpah baik dalam kualitas maupun kuantitas. Maka beruntunglah wong ndeso yang hidup di kota, karena mereka kecipratan pelabelan positif terhadap wong kota.

Menurut saya, pelabelan “ndeso” pada orang-orang yang kampungan secara fisik, ekonomi, fashion, dan ide, dan “kota” pada orang yang sebaliknya, berawal dari perbedaan persepsi terhadap orang desa dan orang kota secara umum. Orang kota, menurut paradigma orang desa, biasanya kaya, berpenampilan bagus, dan pintar. Begitu juga sebaliknya, orang kota biasanya menganggap orang desa kurang mampu secara ekonomi, berpenampilan seadanya, dan memiliki tingkat intelektualitas dan intelegensi yang rendah. Pada akhirnya persepsi dari paradigma ini digunakan publik secara luas baik di desa maupun di kota hingga meluaslah penggunaan label “ndeso” dan “kota.”

Sebenarnya kalau kita mau melihat lebih dalam, ada generalisasi pada pelabelan ini. Kenyataannya, tidak semua orang desa memiliki sifat seperti di atas. Kita tidak bisa memungkiri fakta bahwa banyak juga orang desa yang kaya, berpenampilan bagus, dan memiliki intelektualitas dan intelegensi yang tinggi. Begitu juga dengan orang kota, realitas di lapangan yang menyajikan wajah kemiskinan di pemukiman-pemukiman kumuh di kota-kota besar bahkan dapat menunjukkan sifat-sifat kampungan yang sebenarnya.

Lantas, pantaskah kita beranggapan bahwa orang desa itu pasti “ndeso” dan orang kota itu pasti “kota”? Yang harus kita lakukan selanjutnya adalah membedakan wong ndeso dan wong sing ndeso (orang desa dan orang yang ndeso atau kampungan) lalu, bisakah anda bayangkan sosok seorang wong ndeso yang tidak ndeso dan seorang wong kota yang ndeso?


Mengapa Harus Tabu Wanita Menyatakan Cinta Pada Pria

May 16, 2008

Dinda,
andai saja kau terus terang tentang perasaanmu padaku
andai saja kau jujur tentang siapa yang ada di hatimu
andai kau tak terus-terusan menungguku,

mungkin airmatamu takkan pernah mengalir
mungkin perasaanmu takkan pernah sakit
mungkin hatimu takkan pernah mati

mungkin kau takkan pernah
terombang-ambing dalam ketidakpastian yang
katamu begitu perih dan menyiksa

Ah, mengapa harus aku yang menyatakan cinta padamu
Mengapa harus tabu wanita menyatakan cinta pada pria
dan yang paling penting
mengapa harus kauikuti aturan seperti itu?


Permintaanku Terhadap Permintaanmu Padaku

May 16, 2008

Kau memintaku menjadi pelindungmu
penjagamu
penguatmu
penopangmu
penghiburmu
penenangmu
pemimpinmu
pembimbingmu
Aku hanya minta satu darimu
terimalah aku apa adanya.


Sebuah Ode Untuk Kupu-Kupu

May 16, 2008

Perasaan yang kauluncurkan dari senyummu itu menghunjami hatiku, hingga akhirnya benteng-benteng pertahananku benar-benar rubuh. Harus kuakui bahwa aku tak berdaya melawanmu. Entah karena kesempurnaanmu yang begitu kemilau di mataku atau karena kelemahanku yang tak kuasa menghadapi kesempurnaanmu.
Aku sering berpikir mengapa kau memilih meluncurkan perasaan itu padaku, tidak kepada yang lain. Berkali-kali kutanyakan rasa penasaranku padamu, bukan karena aku tidak mempercayaimu melainkan karena aku tidak mempercayai pendengaranku, dan berkali-kali pula kaujawab, ”Karena aku mencintaimu dengan segenap keutuhanmu.” Jawabanmu bukannya meredakan rasa penasaranku namun justru meluap-luapkannya. Keutuhanku yang bagaimana yang membuatmu mencintaiku?
Ah, andai saja dapat kubaca pikiranmu. Dirimu yang sering tak terduga benar-benar menyurutkan niatku tiap kali aku berusaha menelusuri pikiranmu. Pernah suatu saat aku meragukan perasaanmu. Aku khawatir itu hanya satu dari sekian banyak langkahmu yang salah kutebak dan tafsirkan, namun ketulusan dan pengorbananmu membuyarkan segalanya, menepis setiap keraguan dan kekhawatiran yang terkadang tetap saja muncul.
Perasaanmu yang dulu tidak dapat kupahami dan ketika hadir di hatiku kuanggap sesuatu yang asing, perlahan menjelma menjadi sesuatu yang berharga, yang sanggup menebar kedamaian dan kebahagiaan, yang ingin kujaga dan pertahankan selamanya. Harus kuakui, perasaanmu kini bertahta dalam istana emas di hatiku.
Kupu-kupu, terima kasih atas perasaanmu.
Terima kasih atas senyumanmu.


Takkan Semudah Itu Kau Bisa Membodohiku

May 16, 2008

Orang itu tersenyum saat aku memilih diam
setelah lama kudengarkan celotehnya
Mungkin dikiranya aku termakan kata-katanya

Ah, dia tampak begitu puas bisa memakanku
Haha, sebenarnya dia yang termakan acting-ku
Padanya, sebenarnya ingin kukatakan,
Tak semudah itu kau bisa membodohiku
Sekarang lihatlah
betapa mudahnya aku membodohimu.


Mengapa Harus Kau Beri Dia Kepastian

May 16, 2008

Di sebuah taman, Parno dan Sumiyem bergandengan tangan di atas sebuah bangku. Semilir angin sore perlahan menelusupkan sebuah rasa ke hati mereka, rasa yang sama yang mereka rasakan tiap kali duduk berdua.

Sumiyem  : “ Parno, kali ini aku ingin kau jujur tentang perasaanmu padaku.”
Parno       : “Apa sikapku selama ini kurang jujur?”
Sumiyem  : “Maksudmu?”
Parno       : “Apakah semuanya harus dikatakan?”
Tidakkah kau bisa merasakan perasaanku dari sikapku?”
Sumiyem  : “ Aku bisa, Parno, hanya saja…”
Parno        : “Hanya saja apa?”
Sumiyem   : “Hanya saja aku tidak ingin salah menafsirkannya.”
Parno        : “Begitu juga denganku.”
Sumiyem   : “Maksudmu?”
Parno        : “Aku selalu berusaha merasakan perasaanmu padaku dari
sikapmu, hanya saja aku tidak ingin salah menafsirkannya.”
Sumiyem   : “Parno, kau pengecut!”
Parno         : “Bukan, aku sekedar ingin menjaga harga diriku.”
Sumiyem   : “Asal kau tahu, Parno, keangkuhanmu selama ini perlahan
membunuhku.”
Parno        : ”Benarkah?”
Sumiyem   : ” Ya, dan keragu-raguanmu benar-benar menyiksaku,
mencampakkanku dalam ketidakpastian.”
Parno terdiam. Hening.
Sumiyem   : “Parno, tahukah kamu mengapa kubiarkan tanganmu memegang
tanganku?”
Parno menggeleng.
Sumiyem   : “Jangan pura-pura bodoh! Aku benci semua keangkuhanmu,
keragu-raguanmu, kepura-puraanmu.”
Parno        : (mengambil nafas dalam-dalam)
“Baiklah, Sumiyem. Aku, aku tidak tahu harus memulainya dari
mana, namun sejujurnya aku hanya ingin kau tahu, bahwa
aku… sebenarnya aku …aku…”
(tergagap).
Sumiyem   : (menatap Parno lekat-lekat)
“Ya…?”
Parno        : “Ah, lupakan saja.”
Sumiyem  : “Tidak, tidak bisa begitu. Katakan saja. Kau membuatku
penasaran.”
Parno        : “Lupakan saja, Sumiyem.”
Sumiyem  : “Parno, kau benar-benar pengecut!”
Sumiyem lalu berdiri dan meninggalkan Parno.
Parno        : “Sumiyem, tunggu, jangan pergi!”
Sumiyem terus melangkah, tak menghiraukan Parno.
Parno       : “Jangan tinggalkan aku!”
Sumiyem  : (Sambil terus melangkah)
“Kenapa?”
Parno      : “Karena aku mencintaimu.”
Sumiyem : (tiba-tiba membalikkan badan)
“Apa?”
Parno      : “Aku mencintaimu, Sumiyem.”
Sumiyem : (tersenyum, mendekat ke Parno)
“Parno, selamat datang di hatiku.”
Lalu keduanya berpelukan, saling merasakan detak jantung yang kian mengencang dan dua hati yang perlahan menyatu.


Saat Aku Merasa Harus Terlibat dalam Sebuah Kemelut

May 16, 2008

Cepat atau lambat, waktu itu akan datang
saat fanatisme bertubrukan dengan pemahaman yang mendalam
saat pengultusan berbenturan dengan objektivitas
saat arogansi bergesekan dengan kedewasaan berpikir
saat ketamakan bersinggungan dengan kebersahajaan

Akan kuterjunkan diriku dalam kobarannya
akan kuhanyutkan pikiranku dalam arusnya

Namun aku akan terus berusaha menjadi aku
dengan segenap keutuhanku.