ASSALAAM DAN KAWAH CANDRADIMUKA
Sebuah Perbandingan
Sering dinyatakan oleh Ustadz Dalhari Nuryanto dalam beberapa kesempatan, baik dalam kutbah ta’aruf maupun kultum di masjid, bahwa Assalaam1 bagaikan Kawah Candradimuka. Ada dua analogi menarik dari pernyataan tersebut. Pertama, analogi yang membandingkan Assalaam dengan Kawah Candradimuka dan yang kedua adalah analogi yang membandingkan santri Assalaam dengan Gatotkaca.
Sekedar penjelas, Kawah Candradimuka adalah kawah sakti yang terdapat dalam kisah pewayangan Mahabharata. Dikisahkan suatu waktu para dewa kewalahan menghadapi Kala Pracona dan patihnya, Sekipu, dari Kerajaan Gilingwesi, yang berusaha mengambil alih kekuasaaan kahyangan. Di tengah kemelut tersebut, Bathara Narada berinisiatif meminjam putra Bima dan Arimbi yang masih bayi kemudian memasukkannya ke dalam Kawah Candradimuka dilebur dengan senjata-senjata para dewa.
Sekeluarnya dari kawah tersebut, bayi tadi tumbuh menjadi ksatria mandaraguna yang ‘berotot kawat, balung wesi1’. Nama aslinya yang semula Tetuka kemudian diubah menjadi Gatotkaca. Setelah melalui pertempuran yang sengit, Gatotkaca akhirnya berhasil menaklukkan Kala Pracona dan wadya balanya. Di kemudian hari, ksatria muda tersebut menjadi raja di Pringgandani dan senopati2 Pandhawa dalam perang Bharatayudha menghadapi Kurawa di Padang Kurusetra.
Berpijak pada analogi pertama, yang membandingkan Assalaam dengan kawah Candradimuka, ada banyak aspek yang membuat keduanya sebanding. Fasilitas-fasilitas di Assalaam yang cukup memadai dalam rangka meningkatkan kualitas santri-santrinya tak ubahnya seperti senjata-senjata para dewa yang siap membentuk ‘Gatotkaca-Gatotkaca pesantren’ yang memiliki ‘kesaktian’ di bidang imtaq dan iptek.
Assalaam yang hingga saat ini terus berusaha meningkatkan kualitas pendidikannya tak ubahnya seperti kawah Candradimuka yang terus dileburi senjata-senjata ampuh sehingga diharapkan output yang dihasilkan akan semakin berkualitas. Peningkatan kualitas ini menjadi cerminan usaha dunia pesantren dalam menyajikan mutu pendidikan yang tidak kalah dan bahkan mampu bersaing dengan institusi-institusi pendidikan non-pesantren.
Pada analogi kedua, santri Assalaam seperti Gatotkaca, sama-sama dididik, digembleng, dan ditempa untuk menjadi jawaban atas permasalahan-permasalahan yang ada di luar kawah. Jika Gatotkaca diharapkan mampu menjadi tumpuan para dewa dalam menghadapi Kala Pracona dan wadya balanya, maka santri Assalaam diharapkan menjadi tumpuan masyarakat dalam menghadapi dampak negatif derasnya arus perkembangan zaman.
Bila Gatotkaca pada akhirnya mampu menaklukkan Kala Pracona, maka santri Assalaam seharunsya juga mampu menjawab harapan yang tertumpu di pundak mereka dengan mampu memainkan peran aktif di masyarakat dan komunitas mereka. Salah satu peran mahapenting santri adalah sebagai ‘agent of change.’ Dalam hal ini, santri memainkan peran sebagai agen perubahan ke arah yang lebih baik. Peran santri sebagai agent of change dapat diterapkan misalnya dengan terjun langsung di kegiatan kemasyarakatan seperti mengajar TPA, aktif di organisasi-organisasi kepemudaan, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan dakwah, dan lain sebagainya. Ke depannya, jika agen-agen ini bekerja dengan komtimen yang kuat disertai visi dan misi yang jelas dengan konsistensi yang teguh, bukan tidak mungkin suatu saat nanti masyarakat Indonesia bertransformasi menjadi masyarakat yang lebih madani dan terwujudlan cita-cita ‘baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur3.’
Saat ini Assalaam memiliki kurang lebih dua 2.500 santri dan meluluskan sekitar 200 santri setiap tahunnya. Angka ini sangat tidak imbang jika kita bandingkan dengan populasi Indonesia yang mencapai 230 juta jiwa. Logikanya, sebagai agent of change, seorang alumni dihadapkan pada 1. 150. 000 jiwa. Tugas yang berat memang.
Dengan menilik peran dan jasa Gatotkaca semasa hidupnya4, para santri dan alumni seharusnya terdorong untuk berbuat lebih pada masyarakat dalam rangka mengapilkasikan ilmu mereka dan mendedikasikan usaha mereka bagi kemaslahatan umat. Sebagai santri, tentunya mereka tahu banyak tentang kewajiban mengamalkan dan menyebarkan ilmu, juga kewajiban mereka sebagai generasi muda Islam dan tanah air.
Setiap tahun Assalaam meluluskan sekitar 200 santri denga berbagai potensi dan talenta (baca: kesaktian). Dunia menunggu sepak terjang Gatotkaca-Gatotkaca tersebut. Dunia akan melihat, setahun, lima tahun, hingga tiga puluh tahun setelah kelulusan mereka, apakah mereka sanggup menjadi ksatria-ksatria yang sakti mandraguna atau malah tenggelam ditelan arus kehidupan.
1: Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, Pabelan, Kartaura, Sukoharjo,
Jawa Tengah.
2 : tulang besi (Jawa)
3 : panglima perang (Jawa)
4 : terjemahan literalnya: negeri yang baik dan Tuhan yang pengampun (Arab)
5 : Gatotkaca akhirnya gugur dalam perang Bharatayudha terhunjam
senjata Kunta milik Adipati Karna.



