PERKEMBANGAN SASTRA ASSALAAM TAHUN 1999-2006

April 29, 2008

Saat kita berbicara tentang perkembangan sastra di Assalaam1, kita akan berbicara tentang seubuah perkembangan evolutif yang lebih cenderung bersifat seperti mode. Perkembangan ini menyangkut animo santri terhadap dunia sastra termasuk di dalamnya minat untuk membaca dan menghasilkan karya sastra. Animo ini selalu berubah hampir tiap tahunnya dan menyematkan kesan tersendiri pada tahun-tahun tersebut.

Perkembangan sastra antara tahun 1999 dan 2006 menunjukka pasang surut yang mengesankan, menyedihkan, dan bahkan mengejutkan banyak pihak. Semuanya dimulai pada tahun. Tahun itu adalah maraknya cerpen-cerpen Islami bertemakan epos dan bersetting di daerah-daerah konflik yang melibatkan umat Islam. Buku-buku epik karya Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Izzatul Jannah ramai membanjiri Assalaam. Saat itu antologi cerpen seperti ‘Hingga Batu Bicara’ dan ‘Manusia-Manusia Langit’ sudah sangat familiar bagi santri. Pada tahun ini setiap kali diadakan perlombaan cerpen, mayoritas naskah yang masuk adalah cerpen epik yang bertemakan jihad dalam bentuk perjuangan fisik dengan setting di Maluku, Chechnya, Kosovo, Bosnia, dan Andalusia.

Hingga dua tahun berikutnya, epik Islami masih merupakan style yang dominan di Assalaam. Bahkan pada masa ini sempat didatangkan Galang Lutfiyanto dan Asma Nadia untuk mengisi workshop sastra di lantai dua kantor Assalaam.

Pada tahun ajaran 2003/ 2004, ada semacam usaha dari beberapa santru untuk menggunakan sastra sebagai sarana penyampaian empati dan kritik sosial. Di periode yang sama, ada juga usaha untuk mengalihkan kiblat sastra Assalaam dari style epik Islami ke style yang lebih ‘berat, netral, dan varatif.’ Hal ini ditandai dengan terbtnya dua cerpen tentang pendidikan di majalah Karnisa edisi 31.

Cerpen yang masing-masing berjudul ‘Joko’ dan ‘G U Gu R U Ru’ tersebut merupakan refleksi dari kepedulian santri akan fenomena sosial tentang pendidikan. Kedua cerpen tersebut juga membuang jauh-jauh tema cinta yang sebelumnya selalu menghiasi cerpen-cerpen di Karnisa. Singkatnya, kedua cerpen tersebut lebih merupakan refleksi social awareness daripada ‘promosi pengalaman cinta.’

Tahun ajaran selanjutnya , 2003/ 2004, usaha pemindahan kiblat sastra Assalaam benar-benar sangat intens. Hal ini ditandai dengan lebih didengungkannya nama sastrawan-sastrawan seperti Seno Gumira Ajidarma dan Danarto daripada Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Cerpen-cerpen mereka yang cenderung lebih ‘berat dan sekuler’ lebih banyak diekspos di tengah-tengah santri. Di tahun ini, juga sempat muncul rencana mendatangkan salah satu sastrawan besar Indonesia, Afrizal Malna, namun sayang rencana ini gagal direalisasikan.

Aroma sastra di tahun ini juga cenderung bersifat progresif dan radikal. Satu hal yang cukup fenomenal di tahun ini adalah dibredelnya cerpen ‘Pada Sebuah Malam di Kantor Guru Putra’ dari majalah Karnisa edisi 33. Cerpen yang sebelumnya diharapkan mampu melanjutkan proses pemindahan kiblat sastra di Assalaam ini divonis ‘terlarang’ oelh asatidz. Pembredelan tersebut merupakan tamparan keras bagi dunia kesusasteraan Assalaam dan mengecewakan banyak pihak tentunya.

Selanjutnya, tahun ajaran 2004/2005, dibentuk Forum Lingkar Pena Assalaam yang berafilisi pada Forum Lingkar Pena Solo. Sayang, sepak terjang forum ini kurang begitu terasa sehingga pembentukannya terkesan seperti hanya sebuah formalitas.

Di tahun ajaran 2005/2006, terjadi fenomena yang cukup mengejutkan. Novel-novel teen literature (teen lit). Novel-novel teen lit sangat marak di kehidupan santri. Karya sastra bacaan santri tiap harinya tidak jauh-jauh dari novel-novel semacam Friendster Freaks. Ironisnya, style ‘berat, netral, dan variatif’ pun mulai hilang. Dengung nama Seno Gumira, Danarto, dan Afrizal Malna mulai jarang terdengar bahkan hilang sama sekali. Cerpen-cerpen yang mengambil tema sosial dengan aliran semacam realsime dan supernaturalisme sudah mulai jarang ditemukan.

Tidak bisa dipungkiri memang bahwa perkembangan sastra di Assalaam akan selalu menghadirkan style baru yang menggantikan style lama. Sastra sekarang memang sudah segmented, kata Ayos Purwoaji, salah satu pegiat dan pemerhati sastra di Assalaam, namun apapun yang terjadi, penulis berharap suatu saat nanti muncul sastrawan-sastrawan sekaliber Pramoedya Ananta Toer dan Taufik Ismail dari Assalaam. Anda sanggup menjadi sebesar mereka?

1: Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, Pabelan, Kartaura, Sukoharjo,

Jawa Tengah.


ASSALAAM DAN KAWAH CANDRADIMUKA

April 29, 2008

ASSALAAM DAN KAWAH CANDRADIMUKA

Sebuah Perbandingan

Sering dinyatakan oleh Ustadz Dalhari Nuryanto dalam beberapa kesempatan, baik dalam kutbah ta’aruf maupun kultum di masjid, bahwa Assalaam1 bagaikan Kawah Candradimuka. Ada dua analogi menarik dari pernyataan tersebut. Pertama, analogi yang membandingkan Assalaam dengan Kawah Candradimuka dan yang kedua adalah analogi yang membandingkan santri Assalaam dengan Gatotkaca.

Sekedar penjelas, Kawah Candradimuka adalah kawah sakti yang terdapat dalam kisah pewayangan Mahabharata. Dikisahkan suatu waktu para dewa kewalahan menghadapi Kala Pracona dan patihnya, Sekipu, dari Kerajaan Gilingwesi, yang berusaha mengambil alih kekuasaaan kahyangan. Di tengah kemelut tersebut, Bathara Narada berinisiatif meminjam putra Bima dan Arimbi yang masih bayi kemudian memasukkannya ke dalam Kawah Candradimuka dilebur dengan senjata-senjata para dewa.

Sekeluarnya dari kawah tersebut, bayi tadi tumbuh menjadi ksatria mandaraguna yang ‘berotot kawat, balung wesi1’. Nama aslinya yang semula Tetuka kemudian diubah menjadi Gatotkaca. Setelah melalui pertempuran yang sengit, Gatotkaca akhirnya berhasil menaklukkan Kala Pracona dan wadya balanya. Di kemudian hari, ksatria muda tersebut menjadi raja di Pringgandani dan senopati2 Pandhawa dalam perang Bharatayudha menghadapi Kurawa di Padang Kurusetra.

Berpijak pada analogi pertama, yang membandingkan Assalaam dengan kawah Candradimuka, ada banyak aspek yang membuat keduanya sebanding. Fasilitas-fasilitas di Assalaam yang cukup memadai dalam rangka meningkatkan kualitas santri-santrinya tak ubahnya seperti senjata-senjata para dewa yang siap membentuk ‘Gatotkaca-Gatotkaca pesantren’ yang memiliki ‘kesaktian’ di bidang imtaq dan iptek.

Assalaam yang hingga saat ini terus berusaha meningkatkan kualitas pendidikannya tak ubahnya seperti kawah Candradimuka yang terus dileburi senjata-senjata ampuh sehingga diharapkan output yang dihasilkan akan semakin berkualitas. Peningkatan kualitas ini menjadi cerminan usaha dunia pesantren dalam menyajikan mutu pendidikan yang tidak kalah dan bahkan mampu bersaing dengan institusi-institusi pendidikan non-pesantren.

Pada analogi kedua, santri Assalaam seperti Gatotkaca, sama-sama dididik, digembleng, dan ditempa untuk menjadi jawaban atas permasalahan-permasalahan yang ada di luar kawah. Jika Gatotkaca diharapkan mampu menjadi tumpuan para dewa dalam menghadapi Kala Pracona dan wadya balanya, maka santri Assalaam diharapkan menjadi tumpuan masyarakat dalam menghadapi dampak negatif derasnya arus perkembangan zaman.

Bila Gatotkaca pada akhirnya mampu menaklukkan Kala Pracona, maka santri Assalaam seharunsya juga mampu menjawab harapan yang tertumpu di pundak mereka dengan mampu memainkan peran aktif di masyarakat dan komunitas mereka. Salah satu peran mahapenting santri adalah sebagai ‘agent of change.’ Dalam hal ini, santri memainkan peran sebagai agen perubahan ke arah yang lebih baik. Peran santri sebagai agent of change dapat diterapkan misalnya dengan terjun langsung di kegiatan kemasyarakatan seperti mengajar TPA, aktif di organisasi-organisasi kepemudaan, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan dakwah, dan lain sebagainya. Ke depannya, jika agen-agen ini bekerja dengan komtimen yang kuat disertai visi dan misi yang jelas dengan konsistensi yang teguh, bukan tidak mungkin suatu saat nanti masyarakat Indonesia bertransformasi menjadi masyarakat yang lebih madani dan terwujudlan cita-cita ‘baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur3.’

Saat ini Assalaam memiliki kurang lebih dua 2.500 santri dan meluluskan sekitar 200 santri setiap tahunnya. Angka ini sangat tidak imbang jika kita bandingkan dengan populasi Indonesia yang mencapai 230 juta jiwa. Logikanya, sebagai agent of change, seorang alumni dihadapkan pada 1. 150. 000 jiwa. Tugas yang berat memang.

Dengan menilik peran dan jasa Gatotkaca semasa hidupnya4, para santri dan alumni seharusnya terdorong untuk berbuat lebih pada masyarakat dalam rangka mengapilkasikan ilmu mereka dan mendedikasikan usaha mereka bagi kemaslahatan umat. Sebagai santri, tentunya mereka tahu banyak tentang kewajiban mengamalkan dan menyebarkan ilmu, juga kewajiban mereka sebagai generasi muda Islam dan tanah air.

Setiap tahun Assalaam meluluskan sekitar 200 santri denga berbagai potensi dan talenta (baca: kesaktian). Dunia menunggu sepak terjang Gatotkaca-Gatotkaca tersebut. Dunia akan melihat, setahun, lima tahun, hingga tiga puluh tahun setelah kelulusan mereka, apakah mereka sanggup menjadi ksatria-ksatria yang sakti mandraguna atau malah tenggelam ditelan arus kehidupan.

1: Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, Pabelan, Kartaura, Sukoharjo,

Jawa Tengah.

2 : tulang besi (Jawa)

3 : panglima perang (Jawa)

4 : terjemahan literalnya: negeri yang baik dan Tuhan yang pengampun (Arab)

5 : Gatotkaca akhirnya gugur dalam perang Bharatayudha terhunjam

senjata Kunta milik Adipati Karna.


Komentar Negatif

April 29, 2008

Ada seorang bapak-bapak yang kukenal yang tiap kali mendengar sebuah berita dan atau pernyataan, hampir bisa dipastikan dia akan memberikan komentar negatif atau minimal memberi komentar dengan nada merendahkan. Hal ini tidak terjadi sekali atau dua kali saja, namun berkali-kali.

Aku yang sering menjadi salah satu korban komentar negatifnya—sialnya aku cukup dekat dengan bapak ini—kadang hanya bisa mengelus dada hingga akhirnya sering komentarnya hanya kuanggap angin lalu. Sebenarnya bisa saja kubalas komentarnya dengan komentar senada, namun bila aku melakukan hal ini, pertanyaan (elementer) yang timbul adalah, apa bedanya aku dengan bapak ini ? Dan aku tidak ingin sama-sama menjadi orang yang suka memberikan komentar negatif karena melanggar prinsip-prinsip meghormatiku (my principles of respect).

Secara umum aku belum menemukan sikap yang tepat terhadapnya. Di satu sisi, aku tahu bahwa diam saja tidak sehat namun di satu sisi mengatakan yang terjadi secara terus terang perlu usaha dan keberanian ekstra untuk menembus temok ke-pakewuh-an.  Sialnya, masyarakat di daerahkyu memilki kultur ke-pakewuh-an yang cukup kuat dan andap asor terhadap orang tua yang, menurutku, berlebihan. Jika aku berterus terang pada bapak tersebut, maka aku harus siap dengan konsekuensi dicap (di-judge) sebagai anak yang blak-blakan, ngomong tanpo tiding aling-aling, dan ra ngajeni wong tuo.

Ya susah juga kalau mo melawan arus yang berhubungan erat dengan budaya. Sampai tulisan ini dibuat, aku masih mencari cara yang tepat untuk ‘meluruskan’ bapak tersebut, untuk ‘mengubah kemunkarannya’. Kusebut kemunkaran karena menurut standar hormatku (my respect standards) melukai perasaan orang lain adalah sebuah bentuk kezaliman.


Antara Si Mas (SM), Diajeng (D), dan Wong Gathel (WG)

April 29, 2008

Tentang Kesetiaan dan Rasa Hormat

Jenis kelamin WG di sini adalah laki-laki.

ACT 1
Siang. Sekitar pukul 11 siang.
Di sebuah pelataran gedung bertingkat. Si Mas, Diajeng, dan Wong Gathel berdiri saling berdekatan.
Si Mas mengambil foto gedung-gedung bertingkat di sekitar mereka.
Diajeng melihat-lihat pemandangan di sekitar mereka.
Wong Gathel memain-mainkan cincinnya.
Lalu Wong Gathel melepas cincinnya dan mendekati Diajeng.
WG  : Menggaet tangan Diajeng
“Boleh aku memasang cincin ini di jarimu?”
D     : ”Untuk apa?”
WG   : ”Ini artinya kita menikah.”
D     : (dengan spontan melempar tangan Wong Gathel).
”Gak, cari cewek lain ja!”
SM   : (dalam hati)
”Hahaha, rasain lu….emang enak ngusilin orang?”

ACT 2
Malam. Di sebuah gedung. Ada beberapa orang di sekitar mereka bertiga, termasuk Ling-ling (LL).
WG   : Menendang-nendangkan kakinya ke kaki Diajeng
D      : Membalas WG dengan juga menendang-nendangkan kakinya ke kaki WG.
“Gak sah usil sih. Si Mas bakal nglindungin aku kalo kamu berani
ganggu aku. Iya kan, Mas?”
WG   : “Gak mungkin, dia gak bakal nglindungin kamu.”
SM   : “Ya iyalah. Udah, gak sah ngusilin orang.”
LL    : “Tu kan, Diajeng cuma mau disentuh oleh orang-orang tertentu aja.”
WG   : Tersenyum kecut. Mangkel. Menendang-nendang kaki Si Mas agak keras.
SM   : Tersenyum penuh kemenangan.
(dalam hati)
”Wakakakak, makanya, gak sah macem-macem ma Diajeng, hahaha!”


The 5 Most Dangerous French Songs

April 29, 2008

5 the most dangerous French songs (according to me; I mean, the most addicting):
1. Sous une pluie d’etoils – Cindy Daniel
2. Un homme – Annie Villeneuve
3. Hey Yo – Tragedie
4. Un Ange Qui Passe – Annie Villeneuve
5. Degeneration – Mes Aieux


Ketaman Asmara

April 20, 2008

Penah denger lagu campursari judul’e Ketaman Asmoro ga?
Lagu ini adalah salah satu masterpiece Didi Kempot dan sempat melegenda di daerah Solo dan sekitarnya. Pertama kali q denger waktu naik bus Sumber Kencono dalam perjalanan Sragen-Solo beberapa tahun yang lalu. Waktu itu  pas bisnya mpe Kebakkramat, naik beberapa orang pengamen lengkap dengan instrumen mereka seperti kentrung, kendang, and icik-icik ( I dunno what it usually is called). Setelah memainkan beberapa tembang campursari, akhirnya pengamen-pengamen tersebut mulai melantunkan Ketaman Asmoro. Pertama kali q denger musiknya yang iramanya lumayan mellow, dalam hati q bilang, “Wah, asyik juga ni lagunya.” Mungkin ni hanya sebuah komentar subjektif saya, terkorelasikan dengan karakter melankolis yang cukup dominan dalam diri saya, namun terlepas dari itu bagi saya lagu ini adalah satu di antara lagu-lagu campursari yang menguatkan kesadaran saya untuk selalu cinta pada hasil karya budaya sendiri.
Adapun liriknya adalah sebagai berikut:

Saben wayah lingsir wengi
Mripat iki ora bisa turu
Tansah kelingan sliramu
Wong ayu kang dadi pepujanku

Bingung rasane atiku
Arep sambat nanging karo sopo
Nyatane ora kuwowo
Ngrasakne atiku sansoyo nelongso

Wis tak lali-lali
Malah sansaya kelingan
nanti tekane isuk kapan
nggonku mendem ora bisa turu

Opo iki sing jenenge
wong kang lagi ketaman asmoro
rasah sadrat bisa lali
Isuk awan bengi
tansah mbeda ati

Terjemahan literalnya:
Setiap malam menjelang
Mata ini tidak bisa tidur
Selalu teringat dirimu
Wanita cantik yang menjadi pujaanku

Bingung rasanya hatiku
Ingin mengeluh namun entah pada siapa
Kenyataannya tak sanggup
Merasakan hatiku yang semakin sengsara

Kucoba tuk terus lupakan
Malah semakin teringat
Entah sampai kapan
Aku tergila-gila tidak bisa tidur

Apakah ini yang dinamakan
Orang yang sedang tertambat asmara
Seolah tak mungkin untuk melupakan
Pagi siang malam
terus menggoda hati.

Oia, ada yang tahu tentang langgam Ketawang Puspawarna ga?
Langgam ini adalah langgam Jawa yang terpilih menjadi salah satu lagu yang di-broadcast-kan di luar angkasa!
Mau tahu lebih lanjut, tunggu posting-an selanjutnya!


Participants of ICYEP of 2007-2008 Neepawa-Langge Team

April 20, 2008

The participants of Indonesia-Canada Youth Exchange Program (ICYEP) of 2007-2008 Neepawa-Langge Team

Indonesia

Canada

Firlana Mashadi* – Jakarta

Candielya Jackson* – Manitoba

Agussyanto Ndjue – Gorontalo

Colin Brouwer – Vancouver Island, British Columbia

Baiquni – NAD

Kevin Lees – Thunderbay, Ontario

Dhonny Taufik Hidayat – Bengkulu

Yuri Rousseau – Ottawa, Ontario

Dian Ika Gesuri – West Java

Cynthia Pelletier – Saint Eustache, Quebec

Irene Sumali – North Sumatra

Cayla Janeczko – Winnipeg, Manitoba

Karina Navalia – DKI Jakarta

Katelyn Campbell – Prince Edward Island

Nur Upik En Masrika – North Maluku

Sashah Rahemtulla – Vancouver British Columbia

Pratama Yoga Nugroho – Central Java

Khaleel Jivraj – Edmonton, Alberta

Sandi Yudha Prawira – Banten

Roger Woo – Toronto, Ontario

*: Project Supervisors


Hasil Seleksi PPAN Jawa Tengah Program 2008-2009

April 20, 2008

Hasil seleksi PPAN Jawa Tengah:

Program Kapal Pemuda ASEAN-Jepang :Rangga (Sastra Inggris Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto)
Program Australia            : Pipit (Sastra Inggris Universitas Diponegoro, Semarang)

Congratulations for all participants.
Good luck with the program!